BANYUWANGI – Gunung Raung, si raksasa yang selama ini ngorok dalam diam, mendadak batuk-batuk dan ngos-ngosan. Total 49 kali erupsi dalam 10 hari terakhir. Tapi tenang, kata Bu Bupati Ipuk, “Raung cuma pilek musiman, belum masuk ICU.”
Bumi di timur Jawa ini memang kaya: ada pantai, ada savana, ada kawah ijo, dan… ada Raung yang kadang pengin viral juga. Mungkin iri sama Gunung Semeru yang saban tahun masuk headline.
“Ibu-ibu, bapak-bapak, tetap tenang, jangan panik. Jangan percaya hoaks!” seru Bu Ipuk, sambil setia pakai selendang khas Banyuwangi. Tapi sayangnya, masyarakat kita itu lebih percaya suara tetangga daripada suara sirine. Giliran gunung erupsi, malah update status: “Gunung marah, pertanda alam kecewa.”
🗻 Raung: Si Raksasa yang Cuma Mau Diperhatikan
Menurut Pak Danang dari BPBD, meski erupsinya 49 kali, statusnya tetap Waspada. Ya, mirip-mirip gebetan yang sering nge-chat tapi nggak pernah ngajak ketemuan. Mesti waspada terus, siapa tahu dia ngajak nikah.
Asapnya putih sampe kelabu, persis nasib buruh kontrak: nggak jelas hitam putihnya. Tapi jangan takut, kata PVMBG, erupsinya cuma ngirim abu tipis. Abu yang lebih cocok buat facial daripada evakuasi.
Pendakian ditutup sejak 14 Juni. Para pendaki kecewa. Ransel udah disiapin, tenda udah di-packing, eh tiba-tiba “Tiket konser Raung dibatalkan karena artisnya flu.”
🔥 Sindiran Lembut dari Dalam Perut Bumi
Kalau gunung bisa ngomong, mungkin dia bilang:
“Manusia, kalian sibuk bangun resort, vila di kaki gunung, tapi lupa tanya perasaanku.”
Raung bukan marah. Dia cuma pengin diingat. Dulu dia disembah, sekarang cuma dijadikan latar foto drone prewedding. Sedih, Bung.
Tapi kita ini memang ajaib. Di saat gunung meletus, warga malah jualan es tebu sambil live TikTok: “Guys, erupsi Raung asli di belakangku! Jangan lupa like dan follow yaa~”
👀 Harapan dan Humor dari Lereng Timur
Pemerintah siaga, relawan waspada, netizen sibuk bikin meme. Di tengah kegentingan, rakyat kita masih bisa ketawa. Itulah kekuatan sejati bangsa ini: tertawa sambil menyelamatkan diri.
Jadi, pesan Gareng dan Petruk:
➡️ Waspadalah tanpa panik.
➡️ Percaya data, bukan drama.
➡️ Jaga alam, sebelum alam ngajak duel.
Dan untuk Raung, Gareng cuma bisa bilang:
“Raung, kalo mau curhat, pelan-pelan wae. Wong Banyuwangi ki sabar-sabar kok, asal koe ojo meletus pas malam minggu!”
—
Penulis:
Petruk, kolumnis penuh asap, penulis yang pernah ditinggal gebetan pas nyeduh kopi. Kini fokus mengamati gunung dan gelagat manusia yang lebih meletus daripada kawah Raung.
(Dwi Bakti, ngopi dulu neng pos BPBD.)















