Di ujung senja yang muram,
di sebuah pojok sunyi tanah air yang dulu dijanjikan,
duduklah seorang perempuan renta berselendang merah putih.
Ia memeluk benderanya sendiri—lusuh, sobek, tak lagi harum semangat.
Dialah Pertiwi.
Ibu dari berjuta anak yang kini tak tahu arah pulang.
Dulu, ia bersuamikan Nasionalisme.
Setia, teguh, dan gagah berani menantang penjajah.
Kini?
Suaminya telah mati—dikubur bersama upacara bendera yang makin sepi,
oleh anak-anaknya sendiri,
yang lebih mengenal brand luar negeri daripada lagu kebangsaan.
Ilmu tak lagi mengakar,
karena idealisme pun mati muda—
dipatuk ambisi,
dibunuh sistem yang menyuap dalam senyap.
Pertiwi kini menjanda,
oleh patriotisme yang cuma jadi jargon selebgram berseragam.
Disumpah dalam webinar,
dikhianati saat logout.
Oh Pertiwi,
berapa banyak anakmu kini yang rela menjual jati diri
demi ‘likes’ dan e-commerce berbendera asing?
Berapa banyak adat yang ditinggal,
karena dianggap jadul oleh tren-tren digital?
Engkau menangis,
tapi tangisanmu tenggelam oleh suara notifikasi.
Engkau berseru,
tapi anak-anakmu sibuk scrolling,
sibuk rebahan, sibuk debat maya,
sambil lupa caranya berdiri.
Warisanmu jadi materi seminar,
dikupas dengan slide dan pointer,
dibahas dengan kopi sachet dan jargon usang:
“Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan.”
Tapi begitu seminar bubar,
para pahlawan pun kembali dilupakan,
seperti dokumen PDF yang tak pernah dibuka lagi.
Ibu Pertiwi,
kini hanyalah janda tua
yang hidup dari nostalgia masa merdeka,
yang berharap pada generasi yang gemar bicara
tapi malas berkarya.
Ia tak butuh pidato.
Ia rindu aksi,
rindu tangan-tangan yang mencangkul kembali sawah,
bukan jari-jari yang hanya bisa mengetik kutipan Bung Karno
tanpa tahu artinya.
—
Bangunlah, wahai anak negeri.
Ibumu masih hidup—meski sendiri.
Jangan tunggu ia dikubur bersama sejarah.
Sebab saat Ibu Pertiwi benar-benar mati,
kita tak hanya kehilangan tanah,
kita kehilangan arah.
















