Di sebuah angkringan pinggir jalan, Gareng dan Petruk duduk menghadap sepiring tahu petis dan teh jahe. Malam itu, obrolan mereka melayang ke kisah-kisah Abunawas, si cerdik yang selalu menang melawan raja, pejabat, dan orang-orang serakah.
Gareng: “Truk, aku kepikiran, kalau Abunawas hidup di zaman sekarang, kira-kira dia jadi apa ya?”
Petruk: “Wah, bisa jadi content creator, ahli debat di media sosial, atau malah jadi penasihat politik. Wong dia itu pinter muter-muter kata sampai raja aja bisa kalah!”
Pak Lurah yang kebetulan lewat, tertarik ikut nimbrung.
Pak Lurah: “Lha, emang kenapa kalian ngomongin Abunawas?”
Gareng: “Soalnya dunia ini sekarang banyak yang kebolak-balik, Pak. Yang jujur malah susah, yang culas malah naik pangkat. Kayak cerita Abunawas yang pernah pura-pura gila biar nggak disuruh kerja rodi.”
Pak Lurah mengelus kumisnya.
Pak Lurah: “Lha emang kalian tahu kisahnya?”
Petruk: “Tahu dong! Waktu itu Raja menyuruh rakyat angkat batu besar buat bikin istana. Semua kerja rodi, tapi Abunawas pura-pura gila, jalan ke sana kemari ngomong sendiri. Akhirnya dia nggak disuruh kerja, malah dikasih makan. Cerdas toh?”
Gareng: “Mirip sekarang, Pak. Kadang, yang ngaku-ngaku paling waras malah bikin aturan ngawur, yang jujur malah dianggap gila.”
Pak Lurah tersedak teh jahe, tapi pura-pura batuk.
Abunawas dan Hak Istimewa
Gareng dan Petruk melanjutkan kisah favorit mereka.
Gareng: “Ada lagi kisah Abunawas waktu dia bikin Raja bingung soal hak istimewa. Waktu itu, Raja bilang: ‘Hanya aku yang boleh pakai payung di istana! Karena aku Raja!’ Tapi Abunawas datang dengan payung, dan Raja marah.”
Petruk: “Terus Abunawas jawab, ‘Ampun Raja, saya ini bukan rakyat biasa. Saya juga raja, tapi raja di rumah saya sendiri!’”
Pak Lurah tertawa kecil.
Pak Lurah: “Wah, Abunawas itu pintar ya, berani melawan aturan yang nggak masuk akal.”
Petruk: “Lha iya, Pak. Kayak sekarang, kalau pejabat dapat fasilitas wah, itu katanya ‘hak istimewa’. Tapi kalau rakyat minta keadilan, dibilang ‘terlalu banyak menuntut’.”
Pak Lurah diam, garuk-garuk kepala.
Abunawas, Pajak, dan Jalan Berlubang
Gareng kembali melanjutkan.
Gareng: “Terus ada cerita waktu Raja nanya ke Abunawas, ‘Mana yang lebih penting, aku atau rakyat?’”
Petruk: “Dan Abunawas dengan santai jawab, ‘Kalau nggak ada rakyat, Baginda jadi raja atas siapa?’”
Pak Lurah tersenyum kecut.
Petruk: “Makanya, Pak, kalau zaman dulu raja perlu rakyat buat jadi raja, zaman sekarang rakyat perlu jalan bagus buat bisa kerja! Jangan cuma pajaknya naik, jalannya tetap berlubang!”
Pak Lurah berdiri, menepuk pundak Gareng dan Petruk.
Pak Lurah: “Kalian ini lidahnya tajam ya, tapi ada benarnya juga. Kadang kritik memang harus dibungkus canda biar lebih mudah diterima.”
Gareng dan Petruk tertawa.
Gareng: “Lha itu yang diajarkan Abunawas, Pak. Kalau kritik disampaikan dengan cerdik, yang dikritik nggak bisa marah. Kalau kami ketahuan marah-marah, nanti malah dikira provokator.”
Petruk: “Lagian, kalau kami mau jujur, kami nggak mau cari musuh. Kami cuma mau negeri ini lebih waras, biar rakyat nggak harus jadi Abunawas terus untuk bisa hidup.”
Pak Lurah tersenyum, lalu pamit pulang.
Malam makin larut, Gareng dan Petruk menghabiskan tahu petis mereka.
Di luar sana, dunia tetap terbalik.
Tapi setidaknya, mereka masih bisa tertawa.
Pesan Moral:
Kadang, dunia terasa seperti panggung sandiwara. Yang pintar harus pura-pura bodoh, yang jujur harus lihai berkelit. Tapi seperti Abunawas, kita bisa tetap cerdik tanpa kehilangan hati nurani. Sebab kalau dunia ini terlalu serius, siapa yang akan menyelamatkannya dengan tawa?
















