Malam itu, Gareng dan Petruk duduk di warung kopi pinggir jalan, menatap motor tua mereka yang mendadak batuk-batuk setelah diisi bensin.
Gareng: “Truk, motorku ini sehat kemarin. Tapi baru diisi bensin, kok kayak orang kena asma?”
Petruk: “Lha, kan sekarang lagi musim ‘oplosan’! Mungkin motormu minum pertalite rasa air kelapa.”
Gareng: “Hadeh, aku ini beli pertalite, kok malah dapat pertamax palsu. Mungkin ada sirup campurannya biar tambah manis?”
Di meja seberang, seorang pegawai SPBU hanya tersenyum kecut sambil mengaduk kopi.
Pegawai SPBU: “Ya mau gimana lagi, Mas. Yang jualan bensin juga ikut buka puasa, tapi yang minum sirupnya ya bukan rakyat. Yang minum sirup premium itu para pejabat!”
Pejabat Oplosan, Mesin Rakyat Jebol
Gareng dan Petruk terdiam.
Petruk: “Jadi, ini bukan sekadar bensin oplosan, tapi sistemnya juga oplosan?”
Gareng: “Iya, Truk. Bensinnya campuran, moralnya campuran, kejujurannya campuran. Tapi untungnya, duit yang masuk kantong mereka tetap orisinil!”
Tiba-tiba, dari radio warung, berita mengalun:
“Hari ini pejabat Pertamina menggelar buka puasa bersama. Di tengah krisis BBM, mereka tetap berbagi kebahagiaan dengan menyantap hidangan mewah di hotel bintang lima…”
Gareng langsung mendengus.
Gareng: “Lha, motorku ngeluh, rakyat ngeluh, tapi pejabatnya pesta pora. Buka puasa dengan uang dari bensin oplosan, enak betul!”
Petruk: “Iya, makan sirup pertamax, rakyat minum pertalite rasa solar.”
Sirup Oplosan untuk Pejabat
Petruk lalu nyeletuk, “Geng, bagaimana kalau kita bikin bisnis sirup buka puasa khusus pejabat?”
Gareng: “Maksudmu gimana?”
Petruk: “Kita oplos juga! Biar merasakan, kita kasih sirup rasa pertalite. Manisnya dikit, tapi kalau diminum bikin lambung panas, kayak perasaan rakyat!”
Gareng ngakak.
Gareng: “Bener juga! Biar mereka tahu rasanya ditipu oplosan. Tapi ya susah, Truk. Mereka itu hidup di dunia sendiri. Kita dikasih bensin campuran, mereka naik mobil dinas pakai BBM subsidi yang premium.”
Petruk mengangguk, lalu nyeletuk, “Kalau kayak gini terus, rakyat yang mudik pakai motor bakal mudik pakai dorongan!”
Gareng ketawa pahit.
Gareng: “Iya, Truk. Mesin rakyat jebol, tapi pejabat tetap jalan terus. Oplos bensin, oplos anggaran, oplos janji. Tapi kalau rakyat yang protes, malah dibilang bikin gaduh.”
Di luar, motor tua mereka masih batuk-batuk.
Di hotel sana, pejabat sedang menyeruput sirup manis.
Rakyat hanya bisa menelan ludah.
Pesan Moral:
Sistem yang rusak selalu dioplos dengan kebohongan. Rakyat disuguhi bensin oplosan, sementara pejabat menikmati fasilitas premium. Kalau terus begini, mungkin suatu hari nanti kita semua harus belajar minum air, karena bensin yang benar-benar murni cuma bisa dinikmati mereka yang punya jabatan.
















