INHU –Di negeri dongeng bernama Rengat, tepatnya di tanah Indragiri Hulu, malam Kamis 15 Mei 2025 bukan malam biasa. Pasalnya, tiga pemuda harus menginap gratis di “rumah batu” gara-gara terlalu cinta pada barang haram. Apakah itu? Bukan cinta terlarang, tapi narkoba berbagai rupa! Dari sabu, ganja, sampai ekstasi, lengkap bagaikan paket Ramadan—cuma ini bukan pahala yang didapat, tapi pasal berlapis!
Babak Pertama: Danu dan Botol Misterius
Sandiwara tragis-komedi ini dimulai di Jalan Narasinga, tempat angin malam berhembus dan transaksi haram pun terselubung. Danu Fadilah alias Danu (22), pemuda Kampung Dagang, ditangkap saat sedang asyik bermesraan dengan sebuah botol hitam. Bukannya berisi parfum atau minuman dingin, eh, malah berisi 29 paket sabu. Waduh, Danu, kamu kira itu es batu?

Sadar aksinya terendus, Danu sempat “olahraga ringan” melempar botol ke semak-semak. Sayangnya, tim Satres Narkoba Polres Inhu lebih jeli dari babi ngepet malam Jumat. Mereka menyergap dan mengamankan Danu bersama sepeda motor Mio Soul yang tampaknya lebih setia dari Danu sendiri.
Babak Kedua: Teguh yang Goyah
Dari interogasi, Danu menyebut nama Teguh. Tapi sayang, imannya tak seteguh namanya. R. Tri Anugrah Saputra alias Teguh (26), yang mungkin lebih pantas dipanggil “Tergoda”, ditangkap di rumahnya di lokasi yang sama. Bersamanya, ada sahabat seperjalanan, Haspandi alias Pandi (27), yang entah kenapa ikut-ikutan “bermain kimia”.
Polisi menemukan rumah mereka bak warung obat terlarang. Satu bungkus sabu, dua bungkus ganja, satu ekstasi biru logo Brazil (mungkin fans Neymar?), plastik-plastik kecil, dan uang receh hasil transaksi haram. Uniknya, barang bukti ditemukan di tempat-tempat absurd: kotak rokok, bawah bingkai foto, hingga saku celana. Mungkin mereka lupa, ini bukan game petak umpet.

Sindiran Gareng: Negeri Sabu-sabu, Saku-Saku Tak Tahu Malu
Beginilah nasib negeri kita, kawan. Anak muda yang harusnya sibuk cari kerja, malah cari celah jual sabu. Negara susah maju kalau generasinya sibuk nge-fly. Padahal untuk terbang itu butuh ilmu, bukan isap-isap. Sedihnya, bukan cuma mereka yang rusak, tapi lingkungan pun ikut kena getahnya. Andai mereka tahu, sabu itu bukan sahabat, ganja bukan guru, dan ekstasi bukan ekstase sejati.
Petruk Menyahut: Terima Kasih Polisi, Tapi Jangan Cuma ‘Pemain Kelas Teri’
Salut buat Polres Inhu, yang malam itu tak sekadar ronda, tapi bersih-bersih racun masyarakat. Tapi Petruk titip pesan: jangan berhenti di lapak pinggiran. Bongkar juga yang duduk manis di balik layar, para cukong yang dagang nyawa lewat narkoba. Karena kejahatan yang besar itu sering kali bertopi rapi dan berdasi.
Akhir Cerita: Bukan Tamat, Tapi Tersambung di Pengadilan
Kini ketiga pelaku ditahan, diinterogasi, dan siap disambut pasal Undang-Undang No. 35 Tahun 2009. Sungguh, ini bukan sinetron, tapi babak nyata dalam cerita miris negeri. Semoga ini jadi pelajaran: bahwa jalan cepat menuju “naik kelas” kadang justru membuat kita turun ke dasar.
Catatan Gareng & Petruk:
Wahai anak negeri, jangan jadikan narkoba sebagai jembatan sukses. Karena yang menunggu di ujung bukan rumah mewah, tapi penjara. Ingat, sabu bukan sabun—takkan membersihkan masa depanmu.
















