TRENGGALEK, Gareng Petruk – Di tengah reruntuhan tanah yang merayap dari lereng, bukan cuma batu dan lumpur yang turun dari gunung, tapi juga hujan empati, bantuan, dan cinta dari berbagai penjuru negeri. Kepala Desa Depok, Sugeng Asmoro, S.Pd., tampak gagah meski sepatu masih belepotan lumpur. Beliau tak sendiri, segenap warga dan perangkat desa turut nyawiji (bersatu) dalam ucapan terima kasih nasional—bahkan kosmis—atas semua bantuan penanganan bencana longsor yang mengguncang Desa Depok, Kecamatan Bendungan, Trenggalek, pada 19 Mei 2025 lalu.
Longsor ini tak tanggung-tanggung, masbro dan mbaksis. Sepuluh rumah jadi korban. Tiga di antaranya check out dari peta, alias rata dengan tanah, sementara tujuh lainnya minta renovasi besar-besaran. Enam warga berpulang, tapi dengan kehormatan, cinta, dan doa dari seluruh desa. Upaya pencarian korban terus digelar, kayak acara konser, tapi minus musik, plus semangat gotong royong. Semua pihak terjun: dari BPBD, BASARNAS, TAGANA, TNI, POLRI, sampai para relawan yang datang tak diundang tapi selalu dirindukan.
“Warga kami mungkin nggak punya banyak, tapi rasa syukur dan terima kasih kami semoga bisa sampai ke langit ke tujuh,” ujar Pak Sugeng sambil sesekali mengelap peluh dan air mata—yang entah karena duka atau karena sambal dapur umum terlalu pedas.
Pentas Solidaritas: Dari Gubernur sampai Gerobak Bubur
Sugeng dengan penuh khidmat menyampaikan sembah nuwun spesial ke Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dan Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, yang tak sekadar hadir lewat baliho, tapi betulan mengirim pasukan bantuan. Juga tak ketinggalan ucapan pada BPBD, TAGANA, TNI, POLRI, tenaga kesehatan, dan relawan yang saking banyaknya, bisa bikin kompetisi lari estafet bantuan.
Wartawan juga tak luput disalami secara virtual. “Tanpa berita kalian, siapa yang tahu Depok bukan cuma ada di Sleman,” kata Pak Sugeng, yang sepertinya pernah patah hati di Yogyakarta.
Bantuan Mengalir, Tapi Rumah Masih Mampet
Bantuan terus berdatangan. Dari logistik sampai dukungan spiritual. Dari sembako sampai doa bareng. Tapi masalah tak selesai hanya dengan mie instan dan bantal baru. Masih ada puluhan warga yang mengungsi di rumah saudara, sebagian bahkan tidur berdampingan dengan karung beras dan kenangan manis sebelum tanah ambyar.
“Relokasi sedang digodok. Tapi ya gitu, prosesnya harus matang. Jangan sampai warga pindah, eh malah pindah ke tempat yang lebih rawan,” ujar Agus Sujianto, Sekdes yang kini lebih sering terlihat pakai sepatu boot daripada sandal jepit.
Bencana Boleh Datang, Tapi Guyon Warga Depok Tak Pernah Padam
Meskipun suasana masih berkabung, khas warga Depok tetap kentel: guyub, gokil, dan gotong royong. “Kalau longsor ngajari kita sesuatu, ya mungkin ini saatnya kita lebih akrab sama tanah. Tapi bukan berarti ditimpa juga, ya Allah…” celetuk salah satu warga sambil nyeruput kopi.
Pak Sugeng mengakhiri pernyataannya dengan ajakan: ojo lali berdoa, tetap waspada, dan jangan lupa ketawa meski dalam duka. “Kita ini orang desa, Mas. Gak punya CCTV, tapi punya hati yang waspada. Gak punya drone, tapi punya doa yang naik ke langit.”
Dan itulah Depok. Desa yang mungkin tertimpa longsor, tapi tak pernah dekok.
Salam dari tanah Trenggalek,
di mana lumpur tak menenggelamkan semangat, dan solidaritas lebih deras dari hujan bulan Mei.
















