DENPASAR TIMUR – 11 Juni 2025
Ketika orang-orang sibuk joget TikTok dan ngopi di kafe yang kursinya lebih mahal dari nasi pecel, Unit Reskrim Polsek Denpasar Timur justru sibuk ngebut—bukan di ring road, tapi di jalur pencarian HP hilang yang penuh drama, aroma, dan signal putus-nyambung.
Kali ini, korban bukan orang biasa, tapi anggota Polri sendiri, Putu Yoga Pratama Putrajoelians (yang namanya lebih panjang dari nota rental PS). Ia kehilangan Infinix Note 40 warna obsidian black, alias HP stylish dengan harga bersahabat yang jatuh entah disengaja atau efek gravitasi karma di Jalan WR Supratman, Denpasar Timur.
—
Pelaku Lupa: Signal Bisa Hilang, Tapi Dosa Tetap Nyambung
Pelaku berinisial AK, pria asal Tasikmalaya yang tinggal di Denpasar Barat, mungkin awalnya mengira HP itu jatuh dari langit. Ia pun mengambil dan memakai HP itu tanpa kode etik dan tanpa kode OTP.
Sayang, ia lupa satu hal penting:
> “Signal bisa dicari, tapi karma bisa nyari kamu duluan.”
Tim Opsnal di bawah pimpinan AKP I Made Sena, dibantu Panit Opsnal IPTU I Nyoman Padu, langsung bergerak lebih cepat dari kereta api Jakarta-Surabaya. Pelaku diciduk saat sedang berada di toko gorden—entah cari tirai buat nutupi dosa, atau iseng belanja sambil ngasih story palsu di Instagram. 🫣
—
HP Diamankan, Pelaku Diciduk, Polisi Tetap Kalem
Dari hasil interogasi, AK mengaku pakai HP itu buat keperluan pribadi. Mungkin buat selfie, atau download aplikasi pinjol yang akhirnya cuma bikin galau. Tapi tenang, Polisi tetap profesional, tidak baper, tidak pakai pasal “sakit hati negara”.
Kapolsek Denpasar Timur Kompol I Ketut Tomiyasa, yang kalem tapi tajam seperti pisau dapur emak, menyatakan bahwa ini adalah bukti konkret kerja cepat dan tegas aparat, bukan cuma jaga lalu lintas atau tilang emak-emak bonceng tiga.
> “Setiap laporan akan kami tindak lanjuti secara profesional,” tegas beliau, dengan nada halus tapi nancep.
—
Sindiran Halus untuk Kita yang Sering Hilang Tapi Tak Pernah Dilaporkan
Kisah ini bukan sekadar soal HP dan pelaku, tapi juga cermin sosial:
Banyak orang lebih panik kehilangan sinyal WiFi daripada kehilangan nilai moral.
Banyak juga yang ambil bukan miliknya, tapi berdalih:
“Lha wong nemu kok, bukan nyuri!”
> Ealah… kalau nemu dompet isinya uang rakyat, terus dibelanjain juga boleh? 🫠
—
Penutup ala Petruk:
Jadi pelajaran buat kita semua:
Kalau nemu HP, bukan berarti boleh dipakai.
Kalau nemu pasangan orang, ya jangan digondol juga.
> Karena jujur itu bukan soal takut ketangkep, tapi takut kehilangan hati nurani.
Polsek Dentim sudah bertindak,
Sekarang giliran kita jaga akhlak!
—
HP kembali, pelaku meringkuk, dan rakyat kembali belajar:
Keamanan bukan sekadar patroli, tapi kesadaran bersama.
> Karena yang bikin negara aman bukan hanya seragam, tapi juga hati yang tak suka ngambil hak orang lain.
Sekian laporan dari Joni,
diedit dan disuntrungin oleh Gareng Petruk – tukang ketawa sambil menyindir, biar hidup tak cuma serius tapi juga waras.
















