Jember – GarengPetruk.com
Di hari Minggu yang cerah tapi bikin deg-degan buat 25 anak lelaki, di Dusun Babatan, Desa Jenggawah, suara sholawat bergema, jarum suntik menari, dan teriakan kecil mewarnai langit. Ya, benar! Itu bukan konser dangdut keliling. Itu khitan massal!
Dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-79, Polres Jember tampil bukan dengan borgol, tapi bantuan sosial dan gunting steril. Wakapolres Kompol Ferry Dharmawan, lengkap dengan senyum bapaknya, hadir langsung menyaksikan anak-anak tangguh disunat demi masa depan cerah — dan masa kecil yang traumatis tapi bermakna.
Polisi, Remaja Masjid, dan Tukang Sunat Bersatu Demi (Anu) Anak Bangsa
Acara ini digelar bareng Remaja Masjid Baiturrohman, Pemuda-pemudi Peduli Sosial, dan para pejuang sosial dari KJJT Jember. Lokasinya: halaman masjid. Tempat suci yang hari itu berubah jadi area operasi massal, lengkap dengan goodie bag, cap jempol, dan bonus kambing (bukan buat disunat, tenang).
25 anak jadi korban… eh, peserta, dan sekitar 100 warga jadi saksi. Anak-anak itu datang dengan celana longgar dan pulang dengan langkah miring—tapi bangga. Karena setelah ini, status mereka naik level: dari bocah menjadi jagoan lokal.
Polisi Tak Hanya Menilang, Tapi Juga Menjinjing Bantuan
Kompol Ferry berkata penuh khidmat:
“Kegiatan ini bentuk pelayanan kepolisian yang bermanfaat bagi masyarakat.”
Jarang-jarang kan, lihat polisi datang bukan buat razia knalpot atau sweeping KTP, tapi bawa sembako dan kasih senyum sambil mendampingi anak-anak dikhitan. Ini baru namanya revolusi mental, bukan cuma ngejar target tilang tapi juga nyunat bareng!

Rangkaian Acara: Dari Doa hingga Dada-Dada (Foto Bersama)
Acara ini dimulai dengan:
1. Tahlil dan doa dipimpin Gus Ngali Nawawi, biar anak-anak siap mental dan hati (dan pahanya).
2. Sholawat Bangun Jiwo bikin suasana jadi sakral dan sedikit dramatis.
3. Sesi foto bareng Waka Polres dan anak-anak yang baru saja “naik pangkat” — dengan senyum kecut penuh harap.
4. Tim medis dari RSUK Kaliwates & Klinik Harapan Mulia jadi bintang lapangan.
5. Sembako dibagikan, bukan janji dibagikan. Nah, ini yang langka.
Polisi Dekat Rakyat, Tapi Jangan Dekat Dompet
Kalau biasanya polisi dekat dengan SIM, STNK, dan pelanggaran, hari itu polisi dekat dengan minyak gosok dan perban. Tapi harapannya: kedekatan ini bukan cuma musiman, bukan karena Hari Bhayangkara, dan bukan karena disorot kamera.
Polri yang humanis bukan cuma soal khitan massal, tapi juga soal melindungi hak rakyat kecil tiap hari — dari jalanan sampai pengadilan. Karena kalau khitan saja bisa gratis dan rapi, masa keadilan enggak bisa begitu juga?
“Anu” Mungkin Dikecilkan, Tapi Harapan Dibesarkan
Perwakilan Remas, Mas Sohib, bilang:
“Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, mulai dari RS, Dinsos, Dinkes, Adira Syariah, sampai donatur dan relawan.”
MasyaAllah. Inilah yang kita rindukan: gotong royong lintas sektor, dari seragam dinas hingga sarung anak-anak, semua bersinergi. Karena khitan ini bukan soal medis doang. Ini simbol: bahwa yang kecil bisa tumbuh besar, asal dirawat bareng-bareng.
Gareng dan Petruk menyimpulkan:
“Kepolisian yang menyunat bukan cuma kulit, tapi juga jarak dengan rakyat, adalah polisi yang patut kita angkat tangan… bukan karena takut, tapi karena hormat.”
Dirgahayu Bhayangkara ke-79!
Semoga tahun depan, yang dikhitan bukan cuma anak-anak,
tapi juga ego, korupsi, dan mental feodal dalam birokrasi.
















