Tanjungsari Timur, Situbondo- GarengPetruk.com
Dari sebuah pelosok dusun yang lebih sering disapa sinyal “E” daripada “4G”, seorang pemuda nggak terkenal tapi penuh akal, menulis sepucuk surat buat para pemimpin. Bukan surat kaleng, tapi surat tulus dari hati yang digodok di dapur rakyat, bukan di ruang ber-AC!
Desa Tanjung Kamal, Kecamatan Mangaran — sebuah tempat di mana aspal masih bolong-bolong dan janji kampanye lebih sering mampir daripada proyek pembangunan — menjadi saksi suara sunyi yang penuh makna: “Pak, Bu, kulo nyuwun njenengan menungso…”
Pemimpin Bukan Dewa, Jangan Bertingkah Semaunya
Surat dari dusun ini mengingatkan, bahwa pemimpin itu bukan pewaris tahta langit, jadi jangan bawa-bawa aura paling suci, paling benar, paling ngerti segalanya. Katanya:
“Pemimpin tidak boleh merasa paling pintar. Tidak boleh memihak. Tidak boleh emosional. Harus bisa menerima pendapat.”
Waduh, langsung nyentil banyak pejabat ya, Le! Karena kenyataannya, seringkali yang dipimpin disuruh diam, sementara yang memimpin teriak-teriak pake mic TOA. Padahal, katanya demokrasi. Tapi giliran rakyat nyeletuk, dianggap makar.
Senyum Dalam Kritik, Jangan Cemberut Lalu Ganti Pejabat
Pemuda dusun ini juga bilang, pemimpin harus senyum walau dikritik. Gak usah kayak disiram cuka kalau kena sentilan rakyat. Kritik itu vitamin, bukan racun. Tapi kadang, yang dikritik malah ganti staf, copot kepala dinas, bahkan blokir akun Facebook warga.
“Jangan buat keputusan saat pikiran kacau.”
Ya Allah… ini penting banget. Karena kadang, gara-gara debat dengan istri semalam, esoknya camat digeser.
Pemimpin Sejati: Antara Tanggung Jawab dan Tidak Main Serobot Proyek
Katanya, pemimpin jangan cuma jago ngumbar janji waktu kampanye, lalu ngilang setelah terpilih. Ingat, dipilih bukan karena pintar, tapi karena suara terbanyak. Jadi tolong, jangan mentang-mentang bisa sambung ke pejabat pusat, rakyat pinggiran dilupakan.
“Mengayomi, kasih sayang, sabar, bukan hanya di bibir saja…”
Nah ini dia. Karena yang sering muncul itu justru: bibir manis waktu peresmian, tapi hati getir waktu bagi anggaran.
Dari Dusun Tanjung Sari: Rakyat Tidak Butuh Retorika, Tapi Air Bersih dan Jalan Mulus
Gareng dan Petruk baca surat ini sambil ngelus dada sambil minum kopi sachet. Karena jelas terasa: Bukan soal gaya bicara pemimpin di podium, tapi apakah desa-desa seperti Tanjung Kamal ini dapat jatah pembangunan, atau cuma jatah dikunjungi saat musim kampanye?
Kalau pemimpin itu ibarat induk ayam, maka jangan cuma ngumpulin anak pas difoto, tapi juga melindungi saat hujan datang dan ngasih makan pas paceklik menyerang.
Kepada para pemimpin di segala tingkatan —
dari lurah sampai presiden, dari kepala RT sampai kepala negara —
dengarlah suara dari dusun kecil ini.
Karena kadang yang paling jernih justru datang dari sumur tua, bukan dari kolam renang hotel bintang lima.
“Pemimpin sejati itu bukan yang dielu-elukan saat pesta, tapi yang tetap disebut namanya dalam doa rakyat saat hujan deras datang tapi listrik belum nyala juga.”
Terima kasih, pemuda Tanjungsari.
Karena suaramu membuat suara rakyat yang selama ini dibisukan, akhirnya bergaung juga di lorong-lorong kekuasaan.
Semoga yang membaca ini tidak hanya merasa tersindir, tapi juga tergerak untuk berubah…
Kalau tidak berubah, ya minimal tahu malu.
Editor: GarengPetruk.com – “Ngomongin serius dengan cara nyeleneh, biar yang disindir nggak langsung marah, tapi merenung dulu sambil nyari kopi.”
















