Tangsel, Ibukota Alternatif Plastik dan Asap Tipis-tipis – Kabar mengejutkan datang dari selatan ibukota: Pemkot Tangerang Selatan berencana menyulap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang yang biasanya identik dengan aroma “spesial” dan pemandangan tumpukan karya rakyat, menjadi pusat pengolahan sampah ramah lingkungan.
Yah, setidaknya itu kata mereka. Ramah lingkungan. Kedengarannya sih adem, tapi apakah ademnya kayak taman atau adem kayak janji kampanye?
Menurut rilis (dan biasanya juga rilis harapan), Cipeucang bakal jadi lokasi teknologi pengolahan canggih. Katanya sih, ada waste to energy, ada refuse derived fuel, ada pemilahan, ada kompos, pokoknya semua jurus silat sampah yang udah sering kita dengar… tapi jarang kita lihat wujudnya.
“Kami ingin mengubah paradigma soal sampah,” ujar salah satu pejabat Tangsel, sambil berdiri dekat gunungan plastik yang sudah bisa dikira umur berdasarkan warna dan aroma.

Cipeucang: Dari TPA ke Tempat Penuh Aspirasi
Kalau kata anak kampus, “Cipeucang tuh bukan sekadar tempat buang sampah, tapi simbol peradaban kita.” Simbol dari bagaimana kita memperlakukan bumi kayak mantan: sempat disayang, lalu dibuang seenaknya.
Tapi memang menarik. Setelah bertahun-tahun warga sekitar ngeluh soal aroma yang bisa bikin putus cinta mendadak, soal longsoran sampah yang lebih cepat dari evakuasi pemerintah, dan soal pencemaran Sungai Cisadane yang airnya udah bisa dipakai buat parfum anti-sosial, akhirnya Pemkot bilang: “Kita serius!”
Serius? Serius kayak proyek serupa yang nasibnya ngambang? Serius kayak pembangunan yang dimulai dengan baliho tapi berakhir dengan gorong-gorong terbuka?

Sampah: Sumber Masalah atau Sumber Cuan?
Di balik rencana ini, ada peluang besar. Sampah tuh kayak mantan tajir: kalau bisa diolah, bisa jadi duit. Tapi ya itu tadi, harus diolah, bukan cuma dikumpulin lalu didoain berubah sendiri jadi kompos.
Teknologi waste to energy misalnya, bisa ubah sampah jadi listrik. Mantap. Tapi jangan sampai proyeknya cuma terang di proposal, gelap di realisasi. Jangan-jangan yang di-charging malah rakyat, bukan PLN.
Gareng Ngomong, Petruk Ngomel
Gareng bilang, “Kalau serius, tunjukkan dong roadmap-nya. Bukan cuma rendering digital yang cakep di presentasi.”
Petruk nyamber, “Iya, jangan cuma ganti nama jadi ‘eco-park’, tapi isinya tetap ‘eco-ngakak’. Cipeucang bukan Disneyland, Bung.”
Catatan Akhir: Optimis, Tapi Jangan Lupa Realistis
Kami di redaksi Harian Gareng Petruk tentu senang kalau Cipeucang bisa jadi contoh nasional. Tapi kami juga tahu, Indonesia punya tradisi kuat: niat bagus, pelaksanaan agak ngaco, dan auditnya menyusul setelah bencana.
Rakyat Tangsel dan rakyat Indonesia bukan cuma butuh janji ramah lingkungan, tapi bukti nyata. Karena kalau cuma ngomong, tukang sampah keliling juga bisa. Tapi dia nggak bikin press release, dia kerja beneran.















