Di bawah atap seng warung kopi Bu Minem, tempat di mana harga kopi naik turun mengikuti mood emak-emak, dua tokoh legendaris negeri wayang nongkrong sambil nyruput kopi item: Gareng yang selalu sinis tapi cerdas, dan Petruk, si goblok yang sering kali lebih waras dari pejabat.
Gareng: (nyruput kopi sambil ngelus perut) Nuk, kamu denger berita semalem?
Petruk: Yang mana, Rek? Yang harga beras naik? Yang banjir belum surut? Atau yang pejabat bilang, “Lho kok tanya saya?”
Gareng: Nah, itu! Yang terakhir itu! Kuwi yang nggetok rasa. Bayangno, rakyat tanya soal harga sembako, si pejabat malah jawab, “Lho kok tanya saya?” Lah terus kita tanya siapa? Mbah dukun?
Petruk: Mungkin maksudnya biar kita mandiri, Mas. Ngurus pangan sendiri, nyari air sendiri, nyambung jalan sendiri, bayar pajak tetap, tapi urusan negara… “jangan tanya saya!”

Gareng: Waduh, konsep “merdeka” model anyar itu, Nuk. Negara ada, tapi tak bertanggung jawab. Pejabat digaji, tapi kerjanya ngilang. Udah kayak pesulap, nongol pas kampanye, hilang pas rakyat butuh.
Petruk: Lha iya. Wong pas rakyat bilang listrik padam, dia jawab, “Lho, saya bukan PLN.” Pas jalan rusak, jawabnya, “Lho, itu wewenang pusat.” Rakyat lapar, dia bilang, “Lho, bukan dapur saya.” Lha piye toh?
Gareng: Makanya kuwi, rakyat kudu waspada. Jangan gampang percaya sama orang yang ngomong manis pas mau dipilih, tapi pahit kaya kopi pahit Bu Minem pas sudah duduk di kursi empuk. Apalagi yang jawabannya selalu “Lho kok tanya saya?”
Petruk: Tapi jujur Mas, aku iri lho. Enak banget jadi pejabat. Salah dikit tinggal lempar tangan. “Itu bukan tugas saya.” “Bukan ranah saya.” “Bukan kewenangan saya.” Tapi kalau hasilnya sukses dikit, langsung update status: Alhamdulillah, ini berkat kerja keras kami.
Gareng: Kuwi namanya mencuci tangan tanpa sabun, Nuk. Bersih dari tanggung jawab, tapi tetap bau amis janji.
Petruk: (ngelus dada) Mungkin kalau si pejabat diajak ngopi di warung sini, dia bakal ngerti. Di sini kita tak pernah jawab “Lho kok tanya saya?” Pas kamu nggak punya duit, aku yang traktir. Pas aku putus cinta, kamu yang hibur. Solidaritasnya ada. Tanggung jawabnya nyata.
Gareng: Kuwi bedane rakyat karo pejabat. Rakyat bersatu karena derita. Pejabat bersatu karena tender.
Petruk: (nelen ludah) Lha terus kita kudu piye, Mas?
Gareng: Ya tetep waras, Nuk. Sindir dengan tawa, kritik dengan kopi, lawan dengan logika. Wong jenaka bukan berarti bodoh. Yang bodoh itu yang pura-pura nggak ngerti tapi gajinya gede.
Petruk: Setuju, Mas. Besok-besok kalau pejabat jawab lagi “Lho kok tanya saya?”, tak jawab, “Lho kok jadi pejabat?”
—
Penutup:
Warung kopi bukan cuma tempat ngopi, tapi ruang demokrasi. Tempat di mana suara rakyat yang disunat di parlemen masih bisa tumbuh lewat tawa dan satire. Jadi kalau kamu punya pejabat yang kerjanya bingung tiap ditanya, yuk, ajak ngopi. Siapa tahu habis itu dia sadar: jadi pemimpin bukan cuma buat ditanya, tapi juga buat bertanggung jawab.
Mau disindirin pakai wayang atau dikritik lewat ketawa, yang penting rakyat tetap cerdas, tetap cerewet, dan jangan pernah berhenti tanya—biar nggak terus-terusan dijawab, “Lho kok tanya saya?”
















