Jakarta, 30 Juni 2025
Gareng Petruk – Setu Babakan, Jakarta.
Di tengah aroma teh manis dan keringat perjuangan, seniman Betawi hari ini bernyanyi, menari, silat, ngebodor, bahkan menangis dalam diam. Tapi bukan karena naskah, melainkan karena nasib! Diskusi publik bertajuk “Mendengar Jeritan Hati Seniman Betawi” yang digelar Yayasan Pelestarian dan Pengembangan Budaya Betawi (YASBI) hari Senin kemarin, menjadi panggung perlawanan halus dari para pelaku seni yang sudah terlalu lama dianggap “hiasan etnik” di tengah hutan beton Jakarta.
Dari Tanjidor Hingga Tangisan Dalam Senyuman
Acara dibuka indah, dari Tari Burung Raja Udang hingga Gambang Kromong. Tapi setelah ketukan terakhir rebana, suara hati seniman menggema lebih kencang dari sound system sewaannya. “Kami bukan sekadar pengisi acara di saat kampanye atau festival tahunan,” kata salah satu penari yang kostumnya lebih mahal dari amplop uang transportnya.
Dan ketika moderator sekaligus ketua penyelenggara, Jalih Pitoeng, membuka diskusi, suasana langsung berubah dari formal jadi frontal. Dengan gaya stand up satire ala Betawi, ia menyindir:
“Kalau koruptor bisa denger suara jeritan seniman, mungkin mereka bakal sadar… walaupun cuma sebentar sebelum tidur siang.”

Panggung Rakyat, Tapi Anggaran Elite
Turut hadir narasumber dari berbagai kalangan: KH. Luthfi Hakim (PWNU DKI), Yusuf, S.Kom (DPRD DKI), Kepala Dinas Kebudayaan DKI Dr. Miftahullah Tamary, Budayawan Yahya Andi Saputra, serta penonton dari ormas, mahasiswa, dosen, hingga jawara kampung. Tapi yang paling berisik justru isi hati seniman.
Anto Ristargie, sutradara teater Betawi, menyentil:
“Karya kami bukan cuma buat selfie pejabat. Tapi kalau mau seni kami tetap hidup, jangan cuma kirim undangan, kirim juga anggaran!”
Penampilan Teater Cermin pun sukses mengocok isi kepala dan isi hati. Bukan cuma sindiran buat koruptor yang ngorupsi anggaran budaya, tapi juga buat siapa saja yang nganggep seni cuma pelengkap acara seremonial.
Tepuk Tangan Tak Bisa Dimakan
Salah satu seniman bahkan nyeletuk lirih saat makan siangnya,
“Alhamdulillah kami masih hidup, meski bayaran kami lebih cocok disebut salam tempel kasih sayang.”
Nah loh! Kalau ini bukan satire, entah apa lagi.
Seni Itu Urat Nadi Bangsa, Bukan Kain Lap Festival
Irwan Nazri dari Universitas Mpu Tantular dan Serepina Tiur Maida dari Fakultas Ilmu Komunikasi pun menegaskan bahwa seni adalah urat nadi bangsa. Kalau uratnya putus karena lapar atau frustrasi, bangsa ini bisa kena stroke identitas.
“Selama ini program budaya Betawi lebih sering jadi simbol, bukan solusi,” kritik Yusuf, anggota dewan yang hadir dengan jujur… dan kami harap tetap jujur sampai akhir jabatan.

YASBI: Jangan Sampai Jadi Yas-Biarkan Aja
Sebagai Ketua Umum YASBI, Jalih Pitoeng menyatakan tegas bahwa yayasan ini tak akan jadi alat politik praktis. Ia ingin YASBI jadi rumah besar seniman, bukan kontrakan lima tahunan program musiman.
“Kami ingin pemerintah dengar, bukan cuma datang pas foto bareng. Suara seniman bukan suara latar, tapi suara akar.”
Akhir Kata: Tolong, Jangan Anggap Seniman Hanya Ornamen
Di tengah alunan tanjidor yang makin lirih, suara hati seniman makin lantang:
“Kami cinta budaya, tapi kami juga butuh makan nasi, bukan tepuk tangan doang!”
Jadi, wahai para pengambil kebijakan…
Kalau Anda masih mengira seniman cuma “pengisi waktu luang” dan budaya lokal cuma dekorasi rapat nasional, ingatlah satu hal:
“Bangsa tanpa budaya, ibarat pejabat tanpa malu: kosong tapi merasa penuh.”
Redaksi Gareng Petruk
Tertawa untuk Mikir, Menyindir Tanpa Nyindir Nama
Harian Nasional Gareng Petruk – Edisi Budaya Tersingkir Tapi Tetap Berdendang














Anto
Asyik bgt gaya tulisannya, enak dibaca mudah dicerna, dan isinya penuh daya satire yg tinggi, semiotik elitis. Mantabz. Maju terus Harnas Gareng Petruk!