Ponggok, Klaten – Ada yang beda di Desa Ponggok tahun ini. Sementara warga kota masih sibuk nyari diskon THR di mal, warga Ponggok malah santuy dapat THR langsung dari Pemdes. Bukan cuma janji manis, tapi nyata, berupa sembako dan uang tunai!

Sabtu (22/3/2025), halaman Balai Desa Ponggok mendadak ramai kayak antrean diskon minyak goreng. Bukan karena ada konser dangdut, tapi karena 730 Kepala Keluarga (KK) menerima paket sembako senilai Rp 200 ribu. Gak cuma itu, Badan Amil Zakat Desa juga ikut berbagi rezeki dengan uang tunai Rp 300 ribu. Wuih, kapan lagi dapat THR tanpa harus jadi pegawai?
Kepala Desa Ponggok, Junaidi Mulyono, S.H., dengan wajah sumringah menjelaskan bahwa program ini bukan dadakan kayak flash sale, tapi sudah rutin sejak 2006. “Hari ini kita memberi THR kepada warga senilai Rp 200 ribu dalam bentuk sembako, dan juga dari Badan Amil Zakat Desa memberikan hasil pengelolaan usaha desa berupa uang tunai sebesar Rp 300 ribu,” terang beliau.

Dari Desa untuk Warga, Bukan Dari Warga untuk Oknum
Jangan dikira duitnya jatuh dari langit atau kiriman dari pesugihan. Semua ini hasil kerja keras BUMDes yang dikelola secara transparan. Tahun ini saja, Pendapatan Asli Desa (PADes) mencapai Rp 20 miliar. Iya, miliar! Bukan recehan yang cuma cukup buat beli kuota seminggu.
Duit itu nggak cuma buat THR, tapi juga program kece lainnya. Salah satunya “Satu Rumah Satu Sarjana”, yang memberikan beasiswa Rp 300–500 ribu per bulan buat warga yang kuliah. Bukan cuma itu, BPJS untuk seluruh warga juga ditanggung. Warga Ponggok sakit nggak perlu mikir biaya, tinggal mikir sehatnya aja.
“Saya berharap seluruh masyarakat Ponggok bisa berpartisipasi untuk kemajuan desa sesuai dengan kemampuan yang dimiliki,” tambah Junaidi. Alias, jangan cuma bisa menikmati, tapi ikut menjaga dan membangun juga.
Pelajaran buat yang Lain: Desa Bisa, Kota Harusnya Bisa Juga
Melihat keberhasilan ini, warga desa lain mungkin cuma bisa geleng-geleng sambil ngelus dada. “Kok bisa ya desa punya duit segini banyak dan kembali ke rakyatnya?” Sementara di tempat lain, dana desa sering kali lenyap entah ke mana, hanya meninggalkan gapura megah tapi rakyatnya tetap susah.
Jadi, kalau Desa Ponggok bisa sukses mengelola BUMDes dan bikin warganya sejahtera, mestinya daerah lain juga bisa. Asal niatnya bener, duitnya gak masuk kantong pribadi, dan pemimpinnya lebih mikirin rakyat daripada koleksi mobil dinas.
Nah, warga kota, kapan giliran dapat THR dari Pemda? Atau masih harus sabar dan berdoa, semoga pejabatnya terinspirasi dari Ponggok?















