Jember, 8 Juni 2025 — Hari masih beraroma sate kambing dan lontong opor sisa Idhul Adha. Tapi di satu sudut Desa Rambipuji, tepatnya di Jl. Kaliwining, Dusun Curahancar RT 01 RW 12, suasana udah kayak resepsi manten tingkat kelurahan. Ada tenda, ada panggung, ada kursi terikat pita, dan tentu saja… ada cinta!
Ternyata oh ternyata, ini bukan acara pernikahan, tapi cuma… TUNANGAN!
Tapi tunangan rasa nikahan. Lengkap dengan rias pengantin, kerabat kanan kiri, dan undangan yang cukup bikin catering semaput.

—
Gareng Datang, Cinta Menantang
Saya, Gareng Petruk, yang kebetulan nyasar ke lokasi karena ngira ada kawinan—langsung takjub.
“Lha iki opo? Gladi bersih manten atau tunangan bersubsidi rasa premium?” tanyaku lirih, sambil mencicipi lemper gratisan.
Saya temui sang tokoh utama: Elfandi, sekretaris DPC Pasukan 08 Rambipuji. Mukanya sumringah, bajunya rapi, aromanya harum kayak pengantin sah.
“Kami ini maunya sederhana, Pak Gareng,” kata Elfandi, sambil menyesap teh botol, “Tapi keluarga minta tenda, kursi, undangan. Sekalian kumpul keluarga, tetangga, dan sahabat. Lagian ini masih suasana Idhul Adha, pas banget buat silaturahmi.”
—
Pesta Tunda Nikah, Tapi Nggak Tunda Meriah
Acara dimulai pukul 13.00 WIB, molor sedikit karena si tukang sound system nunggu sinyal dari menara BTS. Yang hadir? Sekitar 70 orang, dari Pasukan 08, PSHT, tetangga, sampai mantan yang masih penasaran.
Hakim, sobat sehidup semotor Elfandi, nyeletuk,
“Wah ini mah kalau tunangan aja kayak gini, nikahnya kudu nyewa lapangan stadion, Mas! Kami nggak nyangka, rame banget. Udah ada tenda, kue, nyaris tinggal akad doang!”
Saya sempat curiga, jangan-jangan KUA-nya juga udah standby di belakang panggung.

—
Musa, Kakak Elfandi: “Ini permintaan keluarga, Pak Gareng”
Musa, kakak Elfandi alias Wito, ikut nimbrung. Dengan gaya khasnya yang seperti ustaz habis ngopi, dia menjelaskan,
“Ini semua atas permintaan keluarga besar. Biar sekalian ngumpul, saling kenal antar keluarga, dan ya… karena Elfandi banyak temannya. Katanya, kalau nggak rame, nanti dibilang nggak serius.”
Yhaaa… di zaman medsos begini, cinta juga harus pakai efek lampu sorot dan dekor bunga.
—
Gareng Petruk Ngudoroso: Sindiran Manis ala Resepsi
Lha, opo ndak mumet yo?
Tunangan aja udah seglamour konser dangdut keliling. Tak heran kalau nanti nikahnya minta disiarin langsung di YouTube, lengkap dengan drone dan kameramen 4K.
Tapi begini to, kawan-kawan…
Ini fenomena nyata. Bahwa cinta zaman now bukan cuma tentang janji dua hati, tapi juga ekspresi sosial dan ekspektasi keluarga.
Tunangan udah kayak gladi resik pernikahan, biar nggak malu kalau nanti nikah beneran.

—
Penutup: Antara Syahdu dan Sindiran
Acara ini mungkin kelihatan “over”, tapi saya melihatnya sebagai bentuk niat dan kebahagiaan.
Cuma ya tolong, jangan sampai romantisme jadi kompetisi, dan jangan juga nanti tunangan kedua harus lebih mewah dari yang pertama (eh, semoga gak perlu tunangan lagi ya, Fan!).
Jadi buat para jomlo di luar sana yang nonton story IG penuh tenda dan kursi dari tunangan orang lain, tetap semangat!
Karena cinta bukan tentang pesta yang megah, tapi niat yang istiqomah.
Sah-sah saja tunangan rasa pernikahan…
Asal jangan nikahan rasa ujian nasional. 😅— Gareng Petruk, reporter keliling yang tidak diundang tapi tetap makan, Jember 2025.
















