Klaten, 5 Juni 2025 –
Setelah 54 tahun hidup dalam “nostalgia tanah merah dan kubangan”, warga Desa Mundu, Kecamatan Tulung, akhirnya bisa ngerasain gimana rasanya jalan beton—bukan becek, bukan berlumpur, dan bukan juga kenangan mantan. Semua ini berkat program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap 2 Tahun Anggaran 2025, yang ditutup secara resmi oleh Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, pada tanggal 4 Juni 2025.
Jalan sepanjang 599 meter dan dua jembatan akhirnya nongol di peta peradaban. Jalan ini bukan cuma batu dan semen, tapi jalur penghubung antara dusun ke dusun, dan lebih penting lagi: jalur menuju SD yang dulu hanya bisa dicapai dengan semangat baja, sandal jepit anti selip, dan doa yang khusyuk.
> “Sejak tahun 1970, daerah itu kayak dihukum Tuhan: gak ada jalan, gak ada sinyal, dan gak ada harapan,” ujar Kepala Desa Mundu, Budianto, dengan wajah lega. “Sampai-sampai cuma tersisa 7 KK di ujung dusun sana. Yang lain minggat cari jalan yang beneran ada.”
—
Dari Beton ke Harapan: TMMD yang Benar-Benar Nyata
Dalam program TMMD ini, gak cuma jalan dan jembatan yang dibangun. Kegiatan non-fisik juga digelar: dari penyuluhan kesehatan, wawasan kebangsaan, sampai program edukasi yang bikin warga makin melek bukan cuma jalan, tapi juga literasi dan imunisasi.
> “Program ini bukan cuma soal cor-cor semen. Tapi juga soal menyambung kembali kehidupan yang sempat terputus,” ujar Bupati Hamenang, yang terlihat bangga seperti anak TK habis lomba mewarnai.

—
Gareng Berkata, Petruk Menjawab:
🗣️ Gareng: “Wong urip nang dusun, pengin sekolah wae kudu salto ngelewati lumpur. Iki jare negara merdeka?”
🗣️ Petruk: “Lha makane, nek TMMD ora teko-teko, sing loro dudu aspal tapi ati!”
—
Tepuk Tangan, Tapi Jangan Lupa Evaluasi
TMMD ini jelas bikin warga sumringah. Tapi kalau boleh nyeletuk dikit nih, kenapa harus nunggu 54 tahun dulu baru dapet jalan? Apa perlu nunggu TNI turun tangan dulu biar dusun diperhatikan?
Kata Bupati sih, program ini hasil kolaborasi Pemkab dan Kodim 0723/Klaten. Nah pertanyaannya, selama lima dekade ke mana aja kolaborasinya? Jangan-jangan sibuk ngurus selfie dan baliho ketimbang dusun yang terisolir.
> “Dulu jalannya gak ada, sinyal juga nihil. Sekarang kami merasa seperti warga Indonesia beneran,” kata salah satu warga yang sempat mengira dusunnya itu bagian dari planet Mars saking sepinya.
—
Penutupan dengan Rasa Syukur dan Sedikit Sindiran
Acara penutupan TMMD digelar dengan kehadiran pejabat Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tentu saja para pahlawan sejati: warga yang sabar nunggu 54 tahun. Jangan-jangan mereka lebih sabar dari jomblo militan.
Tapi inilah Indonesia. Kadang untuk dapat jalan, kita harus nunggu TMMD. Kadang untuk dapat sinyal, kita harus manjat pohon. Dan kadang, untuk dapat perhatian, kita harus viral dulu.
—
Petruk Menutup dengan Bijak
> “Membangun desa bukan hanya bangun jalan, tapi bangun keadilan. Jangan biarkan dusun seperti Mundu harus menua dulu baru dijenguk pembangunan.”
> “TMMD hebat, tapi kalau desa lain masih nunggu 50 tahun buat dicor jalannya, kita mesti introspeksi bareng-bareng.”
—
Salam dari GarengPetruk.com
Satir kami bukan buat nyinyir, tapi biar pembangunan jangan ngambang di angan-angan. Mari kita sengkuyung bareng: biar pembangunan bukan cuma di jalan, tapi juga di pikiran dan kebijakan.















