JEMBER – Dusun Jatisari, RT 02 RW 15, Desa Tisnogambar, Kecamatan Bangsalsari — Di era gempita teknologi 5G, mobil listrik, dan pemilu yang penuh drama, ternyata masih ada warga Indonesia yang hidup seolah-olah nonton dunia dari balik tirai zaman kolonial. Bukan karena nggak punya gadget, tapi karena jalan ke dusunnya lebih cocok buat latihan motocross ketimbang buat dilewati ambulans.
Dusun Jatisari ini dihuni oleh 100 kepala keluarga, kurang lebih 350 jiwa, yang katanya sih “ikut Indonesia” sejak proklamasi 1945. Tapi jalannya? Masih kayak skrip film horor—berliku, gelap, dan penuh jebakan.

PAIMIN: DARI MUDA SAMPAI RAMBUT PUTIH, JALANNYA TETEP BURUK
“Kulo niki lahir tahun 70-an, Mas. Waktu itu jalan rusak. Sekarang anak saya lahir, tetep rusak. Ini jalan apa kenangan mantan, kok nggak bisa move on?” keluh Paimin, warga setempat yang sudah puluhan tahun hidup berdampingan dengan kubangan lumpur lebih akrab daripada tetangga sebelah rumah.
KADES MUHARI: KASIHAN! TAPI YA GITU DEH…
Muhari, sang Kepala Desa Tisnogambar, pun mengaku prihatin. “Kami ini kasihan, Mas. Tapi ya kalau tanahnya HGU milik PTPN, kami ini cuma bisa nulis surat cinta,” katanya sambil menunjukkan surat permohonan yang sudah seperti novel trilogi. Terakhir, surat tertanggal 23 April 2025, dilempar ke meja manajer PTPN Regional V Kebun Banjarsari. Hasilnya? Ya… seperti biasa, ditanggapi dengan sunyi senyap bak mantan yang ghosting.
SEKDES TUBAR: DANA DESA ADA, TAPI…
Menurut Sekdes Tubar, tiap tahun desa sudah menyisihkan dana buat nambal jalan. Tapi apa daya, kalau tanahnya bukan milik desa, pembangunan jadi kaya ngirim lamaran kerja tanpa relasi—seringnya cuma numpang lewat di meja HRD. “Jalan itu panjangnya 800 meter, Mas. Tapi kayaknya butuh 800 proposal baru bisa dilirik,” keluh Tubar.

PTPN: MANAJER RAPAT TERUS, WARGA NGAPAK TERUS
Tim GarengPetruk.com mencoba mengkonfirmasi ke pihak PTPN. Tapi seperti kebanyakan pejabat dalam cerita rakyat modern, manajernya lagi “rapat”. Menurut sumber internal yang minta namanya disensor kayak nilai Ujian Nasional, sang manajer memang sibuk. “Lagi rapat,” ujarnya singkat. Rapat apa? Rapat tali sepatu, mungkin.
KOMENTAR GARENG: GOKIL! TAPI MENYEDIHKAN
Coba bayangkan, saat orang kota marah sinyal 4G-nya putus 3 detik, warga Jatisari marah karena ban motornya hilang ditelan kubangan. Sementara influencer sibuk bikin konten healing, warga Jatisari masih mikir: “Kapan jalan ini bisa dilewati tanpa trauma?”
Gareng berkata: “Kalau jalan rusak di kota, lima menit udah viral. Kalau di desa? Lima kali ganti bupati belum tentu dilirik.” Petruk menimpali: “Mungkin warga perlu ganti strategi. Bikin jalan dari paving hati, biar bisa dilalui dengan rasa sabar dan doa.”
AKHIRNYA… APAKAH HARAPAN MASIH ADA?
Tentu. Warga Dusun Jatisari masih berharap. Harapannya bukan minta jalan tol, bukan jalan layang, cukup jalan yang nggak bikin shock breaker menjerit. Harapan yang sederhana, tapi terasa mewah di tengah gegap gempita pembangunan nasional yang katanya “merata”—merata di brosur, tapi belum tentu di kenyataan.
GarengPetruk.com – Ketika jalan tak kunjung dibangun, kritik jadi candaan. Semoga didengar, sebelum tertawa berubah jadi tangisan.
Ingin dibuatkan versi infografisnya juga?
















