Petruk pernah nyeletuk waktu duduk di warung kopi,
> “Negara ini kaya, tapi kelakuannya kayak orang kehabisan akal. Dikasih emas hijau, malah diubah jadi tambang nikel!”
Lho, ini bukan gurauan semata. Coba kita tengok negeri kita tercinta. Di satu sisi, katanya mau jadi negara maju. Tapi di sisi lain, alamnya dipereteli pelan-pelan, kaya kulit pisang digoreng krispi—renyah di awal, tapi habis tak bersisa.
Ekonomi Naik, Lingkungan Menangis
Penambangan itu katanya bikin ekonomi tumbuh. Katanya bisa membuka lapangan kerja, menaikkan investasi, dan mempercepat pembangunan. Tapi, pertanyaannya: pembangunan buat siapa?
Kalau cuma segelintir orang yang makin tajir, sementara rakyat kecil cuma dapat debu dan jalan berlubang, itu namanya bukan pembangunan. Itu pembagian keuntungan yang timpang—yang di atas kenyang, yang di bawah tinggal nyang-nyangan.
Raja Ampat: Dari Surga Dunia ke Calon Kawasan Industri
Raja Ampat. Siapa yang tak kenal? Laut jernih, terumbu karang warna-warni, ikan-ikan eksotis. Tapi sekarang, mulai banyak yang datang bukan untuk snorkeling, tapi untuk ngebor.
Perusahaan-perusahaan tambang seperti PT Gag Nikel, PT Anugerah Surya Pratama, dan teman-temannya mulai berdatangan. Mereka bukan mau liburan, tapi mau ambil bagian—bagian dari isi perut bumi.
Katanya demi kemajuan, tapi coba tanya ke masyarakat adat sana: “Maju yang mana, Pak? Kami malah kehilangan tanah adat, sumber air, dan tempat cari ikan.”
Limbah vs. Ikan Hias
Dampak penambangan bukan sekadar “sedikit kerusakan”, tapi bisa jadi “bencana permanen”. Hutan dibabat, tanah longsor, air jadi keruh, laut tercemar. Terumbu karang yang dibangun ribuan tahun bisa rusak hanya karena satu tumpahan limbah.
Coba bayangkan, anak cucu kita nanti baca buku pelajaran:
> “Dahulu kala, ada tempat bernama Raja Ampat. Kini tinggal kenangan dan tumpukan batu.”
Mau gitu?
Warisan Bumi atau Warisan Masalah?
Kita selalu bangga bilang Indonesia itu kaya. Tapi pertanyaannya: Kaya buat siapa? Kalau semua sumber daya habis dikuras sekarang, apa yang mau kita wariskan ke anak cucu?
Jangan sampai generasi berikutnya cuma dapat sisa-sisa: air yang tak layak minum, tanah tandus, dan laut tanpa ikan. Mereka bukan cuma mewarisi bumi, tapi juga tagihan ekologi yang tak terbayar.
Solusinya Bukan Anti-Tambang, Tapi Tambang yang Waras
Ini penting. Jangan sampai kita disangka anti-tambang. Bukan, kita bukan anti industri. Kita cuma anti kebodohan yang merusak masa depan. Tambang boleh, tapi harus dengan prinsip berkelanjutan. Jangan gali tanpa pikir panjang, jangan eksploitasi tanpa reboisasi.
Gunakan teknologi ramah lingkungan. Libatkan masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan. Dan tolong, jangan sekali-kali abaikan suara masyarakat adat. Mereka bukan batu sandungan—mereka penjaga hutan, penjaga laut, dan penjaga warisan yang sebenarnya.
Kesadaran Lingkungan Itu Keren, Bukan Ketinggalan Zaman
Zaman sekarang, cinta lingkungan bukan soal naik sepeda atau bawa tumbler doang. Tapi juga soal bersuara ketika tanah dijarah dan laut dicemari. Edukasi tentang lingkungan harus digalakkan, bukan dibisikin pelan-pelan. Karena kalau cuma perusahaan yang punya suara, rakyat hanya akan jadi penonton di ladangnya sendiri.
Penutup: Mau Kita Tinggalkan Apa untuk Mereka?
Kalau hidup ini seperti warisan, maka pertanyaannya:
Mau kita tinggalkan apa untuk mereka?
Apakah kita akan dikenal sebagai generasi yang mewariskan hutan dan laut yang lestari?
Atau sebagai generasi yang mengganti keindahan alam dengan tumpukan tailing dan lubang tambang?
Petruk bilang,
> “Yang bikin kita hebat bukan seberapa banyak yang kita ambil dari bumi, tapi seberapa banyak yang kita jaga untuk nanti.”
Jadi, yuk, mulai mikir. Jangan cuma mikir profit hari ini, tapi juga planet esok hari. Karena sekali bumi ini rusak, kita nggak punya cadangan planet lain untuk pindah.
—
Batu, 12 Juni 2025
> “Boleh gali, asal jangan gali lubang masa depan sendiri.” – Gareng, sambil nyemil tempe bungkus daun pisang.
















