Banyuwangi, 13 Juni 2025 – Kabar gembira untuk kita semua! Bukan soal pasta gigi mengandung formula baru, tapi karena beras Banyuwangi lagi-lagi menunjukkan taringnya. Di tengah cuaca yang makin gak jelas dan hama yang makin banyak gaya, Banyuwangi tetap surplus beras sampai 159 ribu ton lebih!
Ya, ini bukan lelucon Pak RT, tapi data resmi dari Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi.
Jadi kalau ada yang bilang rakyat krisis beras, mungkin dia salah alamat… atau salah lihat rak minimarket.
—
Prabowo Arahkan Swasembada, Banyuwangi Gaspol Tanpa Basa-Basi
Presiden Prabowo Subianto sedang getol-getolnya menggenjot program swasembada pangan.
“Jangan impor terus, masa nasi kita tergantung negeri seberang,” kira-kira begitu semangatnya.
Nah, Banyuwangi pun pasang badan: Produksi beras tembus 228 ribu ton, konsumsi cuma 68 ribuan ton. Sisanya? Ngendap manis di gudang, siap ekspor, atau nunggu diborong Bulog.
Bupati Ipuk Fiestiandani, dalam pidatonya yang tidak pakai pantun tapi tetap mengesankan, bilang:
> “Ini bukti nyata bahwa Banyuwangi ikut mendukung program swasembada pangan Pak Presiden.”
Wah, luar biasa, Bu! Tapi rakyat juga bertanya-tanya, berasnya aman, tapi gimana nasib petaninya? Apa ikut surplus juga, atau malah tekor sambil ngopi di teras?
—
Gareng Nyeletuk: “Surplus Beras Oke, Tapi Jangan Sampai Surplus Janji!”
Gareng, yang kebetulan lagi nyemil kerupuk di warung mbok Nah, nyeletuk sambil baca berita:
> “Kalau berasnya surplus tapi harga gabahnya anjlok, ya itu sama aja kayak menang perang tapi dompet kosong.”
Petruk pun tak mau ketinggalan:
> “Surplus itu bagus, asal jangan jadi alat politik buat bangun citra doang. Rakyat kenyang bukan cuma karena angka di laporan, tapi karena nasi betulan di piring.”
—
Data, Target, dan Dilema Petani
Plt Kepala Dispertan, Ilham Juanda, dalam laporan resminya bilang:
Luas tanam sudah 63 ribuan hektare (dari target 125 ribu)
Serapan gabah oleh Bulog 94% (bravo!)
Tapi… ada serangan hama yang sempat bikin panik dan bikin petani elus dada, bukan elus hasil panen.
Masih ada 6 bulan lagi sampai Desember. Targetnya tercapai?
InsyaAllah. Tapi juga insyausaha. Karena hama dan cuaca tidak bisa dikasih surat edaran.
—
Sindiran Lembut Ala Petruk
> “Beras boleh melimpah, tapi jangan lupa, perut rakyat juga butuh keadilan. Jangan sampai gudang Bulog kenyang, rakyat malah gigit ujung sendok.”
> “Petani jangan cuma dibanggakan pas panen, tapi dilupakan pas harga jatuh.”
—
Penutup: Antara Optimisme dan Realita
Kita tentu bangga Banyuwangi jadi tulang punggung swasembada. Tapi di balik grafik surplus, ada petani yang berpeluh, ada tanah yang butuh pupuk, dan ada harga yang minta stabil.
Kalau semua elemen pemerintah bisa duduk bareng petani, bukan cuma pas panen raya, tapi juga saat mereka butuh pupuk, air, dan keadilan harga…
barulah kita betul-betul swasembada, bukan cuma di laporan, tapi juga di hati dan dapur rakyat.
—
Dwi Bakti
Biro Banyuwangi
GarengPetruk.com – Media rakyat waras, lucu, tapi tajam seperti sabetan celurit petani
















