Jember, garengpetruk.com – Sabtu, 19 April 2025
Di tengah gegap gempita dunia pendidikan yang kadang bikin jidat rakyat berkerut, muncul kabar yang bikin hati adem seperti es teh di siang bolong: Sekolah Menengah Atas Rambipuji (SMARA) akhirnya menyerahkan seluruh ijazah siswanya, bahkan yang lulusnya sejak jaman ringtone HP masih poliponik!
Langkah ini bukan karena kesambet atau ikut challenge TikTok, tapi karena instruksi tegas dari Gubernur Jawa Timur dan Kakandik, yang bilang: “Ojo maneh sekolah nahan ijazah, wes ora jamané!” Bahkan, ijazah yang belum diambil disuruh diantar langsung ke rumah siswa. Luar biasa, ini baru namanya “merdeka belajar”—bukan “terpenjara ijazah.”

Gareng yang mendengar kabar ini langsung ndelosor bahagia, “Akhire rek! Ijazah ora meneh disandera karo administrasi! Iki namane revolusi pendidikan versi waras!”
Salah satu bukti nyata datang dari siswa angkatan 2007/2008, mas Sandy Yudha Pratama, yang akhirnya bisa menerima ijazahnya setelah sekian lama terkatung-katung seperti janji kampanye. Guru dari SMARA bahkan rela menyusuri alamat dari catatan lama, dibantu perangkat desa, demi menemukan sang pemilik ijazah.
“Wah iki lho, guru sing pancen guru—bukan hanya ngajar, tapi juga nglacak jejak murid demi hak pendidikan,” ujar Petruk sambil lap air mata haru pakai sarung.
Mas Sandy, yang sekarang sudah kerja, sampai nggak percaya ijazahnya datang tanpa biaya, tanpa drama, tanpa disuruh bikin surat sakti apapun. Dulu sempat mau ambil, tapi gagal ketemu kepala sekolah. Untungnya waktu itu masih dikasih legalisir.
“Alhamdulillah, sekarang ijazahnya datang langsung. Rasanya kayak dapet undangan nikahan dari mantan, tapi isinya kabar baik!” kata Sandy.
Temannya, Mas Dimas, yang rumahnya jadi lokasi penyerahan ijazah, ikut bangga.
“Semoga semua sekolah bisa ngikutin SMARA. Wong ijazah itu hak siswa, bukan agunan pinjaman koperasi!” tegas Dimas sambil senyum tipis penuh harapan.
Gareng nyeletuk:
“Sekolah itu tempat ilmu, bukan kantor leasing. Ijazah itu hak, bukan barang bukti!”
Petruk nambahi:
“Yang hebat bukan cuma sekolah yang ngajari rumus, tapi juga yang ngerti hak murid—termasuk hak menerima ijazah tanpa dipersulit!”
Jadi, buat semua sekolah yang masih “hobi” menahan ijazah: ayo tobat! Jangan tunggu disorot media atau disemprit gubernur baru bergerak.
Ini bukan zaman edan, ini zamannya edukasi beneran. Kalau SMARA bisa, sekolah lain pun harusnya bisa!
Ijazah bukan hadiah, tapi hak. Dan hak itu harus dibebaskan, bukan ditawan.
Bravo SMARA! Bravo pendidikan
yang berpihak pada rakyat!















