Jember, 20 Juni 2025 – Udara pagi yang biasanya dipenuhi bau kapur tulis dan jeritan “Bu, saya belum ngerjain PR!”, hari ini berubah jadi aroma semangat dan senyum orang tua. SMA Negeri Rambipuji, atau yang sok keren dipanggil SMARA, mendadak jadi pusat peradaban: ada Pentas Harmoni Kreasi Anak Negeri, bazarnya jalan, raportnya jalan, dan tentu saja: Gus dan Ning-nya manggung!
Iya, Gus dan Ning bukan cuma nama di kartu undangan mantenan. Tapi ini semacam ratu dan raja sehari, yang katanya bakal mewakili sekolah ke level Kabupaten. Semifinal hari ini kayak audisi Indonesian Idol, tapi versi sopan dan bersepatu pantofel. Diiringi suara teriakan temen sekelas yang lebih rame dari MC.
“Acara ini biar rame, Mas. Pas pengambilan raport. Biar orang tua sekalian belanja, nggak cuma ambil nilai,”
celetuk Salsabillah, peserta lomba sekaligus duta senyum SMARA, sambil ngelirik kamera kayak selebgram.

Kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB, lengkap dengan senam, pencak silat, tari, musik, sampai bazar yang bikin dompet orang tua deg-degan. Bukan karena mahal, tapi karena anaknya jualan dan emak harus rela beli meski rasanya “unik”.
Delapan kelas ikut buka lapak. Ada yang jual makanan, ada yang jual kerajinan tangan, ada yang jual harapan masa depan (eh, maksudnya brosur prestasi). Dan pameran? Wah, isinya karya siswa yang katanya “hasil ekstrakurikuler”, padahal bisa jadi itu tugas yang dikerjakan mendadak semalam karena dikejar deadline Pak Guru.
“Sebagai orang tua, kami bangga, Mas. Anak kami ikut lomba Gus Ning. Bazar juga rame. Keren!”
ujar Bu Siti Saromah, sambil gendong belanjaan dari anak tetangga (karena anaknya sendiri jualan kebanyakan senyum).

Pak Afandi, Humas sekolah, tampil dengan jas formal dan pidato khas orang PR yang sudah siap ditulis ulang oleh jurnalis.
“Acara ini agar karya siswa bisa dilihat langsung orang tua. Kami barengkan dengan pengambilan raport agar ramai. Terima kasih atas partisipasi semuanya.”

Kritik Lembut Ala Gareng Petruk:
Di balik semaraknya acara, terselip sindiran manja:
Kenapa harus nunggu momen raport baru sekolah semeriah ini? Kenapa nggak tiap bulan ada ruang apresiasi untuk kreativitas anak-anak, bukan cuma pas mau nyari juara?
Dan, ehm, ini acara untuk siswa atau strategi promosi sekolah biar naik pamor? Tapi ya sudahlah, yang penting anak-anak happy, orang tua bangga, guru nggak pusing, dan pedagang bakso laris.
Karena di negeri ini, kadang pendidikan butuh panggung.
Bukan buat pamer, tapi supaya talenta tak cuma jadi nilai, tapi juga jadi nyali.
SMARA KEREN. Bukan cuma nama, tapi semangat.
Dari dusun Pecoro, Rambipuji, muncul bakat yang mungkin besok jadi bintang YouTube, atau presiden, atau minimal juara tingkat kabupaten.
Yang penting, jangan cuma keren di hari raport.
Keren juga pas ujian, pas nyapu kelas, dan pas bilang “permisi, Bu, saya telat karena bantu emak jualan di bazar.”
Sekian laporan dari SMARA, di mana seni, nilai, dan semangat ketemu di satu panggung.
Lanjut Gus! Gas Ning! Jangan lupa, raportnya dibawa pulang, jangan sampai tertukar sama brosur bazar.
Redaksi: garengpetruk.com
Karena kadang yang serius bisa disampaikan sambil ngakak.















