BANYUWANGI – Dua hari ini mendadak ramai, bukan karena ada diskon di pasar atau tuyul ketangkep warga, tapi karena yang datang Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka. Ya betul, mas Gibran, anak sulung Presiden ke-7 RI yang sekarang nyambi jadi Wapres, mampir dua hari ke tanah Osing, Senin-Selasa (23–24 Juni 2025).
Kata orang protokoler, kunjungan ini disebut “kerja.” Tapi Gareng sama Petruk curiga, jangan-jangan ini semacam study tour elite: panen tebu, dialog sama petani, ngobrol sama ibu-ibu Mekaar, sampe mampir pondok pesantren. Bedanya, gak ada naik bis pariwisata dan gak bawa bekal nasi bungkus.
Mendarat Lembut, Ditemui Hebat
Gibran mendarat di Bandara Banyuwangi jam 08.52 WIB, bukan telat bukan juga kepagian, pas banget kaya nasi goreng langganan. Yang nyambut bukan sembarang orang—ada Gubernur Khofifah, Pangdam V Brawijaya, sampe Kapolda Jatim. Singkatnya, kalau semua yang nyambut itu nyalon DPRD, bisa langsung ngalahin partai sebelah.
Agenda: Dari Manisnya Tebu Sampai Pedasnya Pasar
Di hari pertama, Gibran langsung ke PT Industri Gula Glenmore (IGG). Di sana dia panen tebu. Gareng nyeletuk, “Wah, cocok mas Gibran. Panen tebu itu simbol harapan: manisnya hasil, tapi pahitnya perjuangan, apalagi kalau pupuk mahal!”
Di sana Gibran ngobrol bareng petani tebu. Tapi ya, seperti biasa, petani ngomong keluh kesah, pejabat jawabnya: “Akan kami tindak lanjuti.” Entah lanjutnya sampai mana, semoga nggak nyasar ke arsip.
Setelah panen, agenda bergeser ke RTH Maron Kecamatan Genteng, tempat ibu-ibu program Mekaar ngumpul. Ibu-ibu seneng, bisa selfie, tapi juga berharap dagangannya bisa naik kelas—bukan cuma difoto, terus ditinggal.
Santun Sosial & Silaturahmi Spiritual
Gibran juga sempat menyantuni 100 anak yatim. Petruk ngelus dada sambil berdoa: semoga perhatian ke anak yatim ini gak cuma pas kunjungan pejabat. Lha wong anak-anak itu butuh perhatian tiap hari, bukan tiap jadwal seremoni.
Lanjut, Gibran silaturahmi ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Kecamatan Muncar. Di sini, suasana adem. Harum dupa, bacaan doa, dan suara ngaji menyambut Gibran. Warganet langsung nge-tweet: “Wapres ketemu kyai, semoga bukan hanya cari restu politik, tapi juga restu langit.”
Hari Kedua: Blusukan ke Pasar Rogojampi
Hari Selasa (24/6), agenda terakhir: Pasar Rogojampi. Gareng sempat datang juga, bukan buat liputan, tapi beli tempe. Kata ibu-ibu di pasar, “Bagus mas Gibran mampir, biar tahu harga cabe itu bukan angka statistik, tapi derita emak-emak.”
Komentar Satir: Dari Gareng dan Petruk
Gareng: “Mas Gibran keliling petani, pasar, pesantren… bagus. Tapi jangan sampe kunjungannya kayak hujan di musim kemarau: turun sebentar, habis itu tanah tetap retak.”
Petruk: “Pejabat blusukan itu kayak drama Korea. Romantis di awal, tapi sering ninggal luka kalau gak ditindaklanjuti. Apalagi rakyat udah terlalu sering dijanjiin, sampe bingung, ini negara atau seminar motivasi?”
Penutup: Jangan Hanya Lihat, Tapi Dengar dan Rasakan
Kunjungan dua hari Wapres Gibran ke Banyuwangi ini semoga gak jadi parade pencitraan semata. Rakyat butuh bukti, bukan brosur. Dari panen tebu sampai pasar, semua jadi saksi: pemimpin yang baik bukan yang banyak kunjungan, tapi yang banyak penyelesaian.
Kalau petani masih beli pupuk kayak beli emas, kalau ibu-ibu Mekaar masih didatangi saat kampanye saja, kalau anak yatim hanya disapa saat kamera nyala—berarti kita masih jauh dari cita-cita bangsa yang adil dan beradab.
Gareng dan Petruk pamit, sambil nulis ini pakai hati dan sedikit nyengir. Karena kalau rakyat gak bisa tertawa, bisa-bisa cuma bisa menangis.
















