Jakarta, 1 Juli 2025 – Sidang lanjutan perkara impor gula yang manis di atas kertas, tapi pahit di pengadilan, kembali digelar. Lokasinya tetap elegan, Pengadilan Tipikor Jakarta, dengan suasana yang cocok untuk drama hukum: serius, ber-AC, dan penuh tatapan tajam jaksa.
Kali ini, yang naik ke panggung adalah Tom Lembong, mantan petinggi yang kini bukan lagi petinggi, melainkan saksi yang dirindukan kuasa hukum—karena katanya, semua kesaksiannya meringankan, bukan memberatkan. Padahal yang diimpor gula, bukan beban.
Sementara terdakwa utamanya, Charles Sitorus, mantan Direktur Utama PT PPI, hanya bisa duduk manis. Mungkin sambil bertanya dalam hati: “Kenapa nasibku tak semanis gula impor itu?”
Saksi Meringankan, Tapi Negara Masih Berat di Neraca
Menurut kuasa hukum Tom Lembong yang bernama Zaid Musafi, seluruh saksi sejauh ini seperti menabur gula dalam kopi hitam: mempermanis keadaan kliennya. Bahkan ia menyebut bahwa BPKP (Badan Pemeriksa Keuangan Penentu) pun ‘ngaco’ hitungannya.
“Perhitungan mereka banyak error, kayak kalkulator kehabisan baterai,” ujar Zaid, sembari menahan tawa kecut.
Tak mau hanya bermodal opini, tim Lembong menggandeng tiga ahli andalan:
Antoni Budiawan, ahli ekonomi,
Faridson, ahli publik finansial,
dan Haula Rusdiana, ahli perpajakan.
Mereka bertiga secara senada mempertanyakan: “Kalau negara tak merasa dirugikan, siapa yang dirugikan? Tukang es campur?”
Dari Saksi Jadi Terdakwa, Tom Lembong Ikut Jalani Proses
Dalam sesi wawancara seusai sidang, kuasa hukum menyebut bahwa Tom Lembong juga akan segera duduk di kursi terdakwa. Tapi jangan khawatir, katanya sih cuma sementara—kayak jabatan menteri. Proses ini, kata mereka, adalah kesempatan untuk meluruskan tuduhan yang dianggap miring, meski ekonomi negara sendiri sudah miring duluan.
Persidangan ini juga akan mengupas chat-chat dan surat-menyurat ala birokrasi, antara Tom dan pejabat lain yang setuju, tak setuju, dan pura-pura tak tahu soal impor gula ini. Semoga chat-nya bukan pakai emoji ya, biar nggak bikin hakim bingung.
Gareng Ngomong:
Lha Truk, gula itu mestinya buat manis-manis teh, bukan buat nambah pahitnya hukum!
Kalau saksi sudah meringankan tapi rakyat tetap berat hidupnya, siapa yang beneran untung?
Negara kita ini lucu, pas impor lancar kayak tol, tapi pas diaudit, malah banyak lubangnya.
Kita butuh transparansi, bukan hanya gula-gula narasi.
Petruk Menimpali:
Walah, wong saksi meringankan kok negara makin berat. Jangan-jangan kerugiannya bukan di uang, tapi di rasa percaya rakyat yang makin tipis. Gula sih bisa diimpor,
tapi kepercayaan rakyat? Waduh, itu susahnya kayak ngimpor keju dari planet Mars.
Salam Gareng Petruk: Kritik boleh, tapi jangan pahit-pahit banget. Biar negara tetap sehat, dan rakyat tetap bisa ngeteh manis di sore hari.
garengpetruk.com – Berita tak hanya dibaca, tapi juga dirasa dan ditertawakan.
















