BATU, garengpetruk – Kota Batu kini nggak cuma menjual hawa sejuk dan apel merah ranum, tapi juga semangat kolaborasi yang mulai nendang. Lewat panggung dialog keren berjudul “Jejaring, Kebijakan, dan Kolaborasi Investasi Pariwisata yang Berkelanjutan” yang digelar Kamis sore (31/7/2025) di Balai Kota Among Tani, para pemangku kepentingan adu jurus, adu akal, dan… adu komitmen demi nasib pariwisata Batu yang lestari dan gak bikin mumet.
One Village One Selfie… eh, Destination!
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, langsung nembak ke inti masalah: Batu harus naik kelas, dari sekadar tempat piknik jadi laboratorium hidup. Setiap desa wajib punya daya tarik sendiri. Bukan cuma jualan pemandangan, tapi juga edukasi, olahan pertanian, dan produk UMKM.
“Kami nggak pengen pengunjung cuma dateng, foto, trus pulang. Kami ingin wisatawan belajar, belanja, dan… balik lagi minggu depan,” ujar Heli sambil menyingkap peta wisata yang lebih cerdas dari sekadar ‘selfie spot’.
Kejaksaan: Jangan Takut Investasi, Kami Back-Up Legalnya!
Dr. Andy Sasongko, Kepala Kejaksaan Negeri Batu, hadir bukan untuk nangkep, tapi ngawal. Lewat UU No. 11 Tahun 2021, Kejaksaan kini punya tugas buat ngamanin investasi. Jadi buat investor yang pengen bangun hotel, glamping, atau warung soto, gak usah takut dicekal.
“Asal sesuai hukum, kami kawal. Biar Batu tumbuh, bukan tambah ruwet,” kata Pak Kajari mantap.
Polisi: Bye-Bye Macet, Halo Smart Traffic
Kapolres Batu, AKBP Andi Yudha Pranata, nggak mau wajah Batu tercoreng cuma karena macet pas weekend. Makanya, dia ngeluarin jurus digital: prediksi okupansi hotel + volume kendaraan + rekayasa lalu lintas adaptif.
“Kami udah uji coba sistem satu arah pas Nataru dan Lebaran. Hasilnya? Wisatawan senyum, warga tenang,” kata Pak Kapolres, kayak habis nyelesein TTS soal lalu lintas.
TNI: Alam Dijaga, Wisata Dipelihara
Dari ranah tentara, Letkol Danu Prasetyo, Dandim 0818/Malang-Batu, nggak mau kalah. Beliau nyatakan bahwa Babinsa bukan cuma jagain markas, tapi juga hutan, kebun, dan sungai.
“Pariwisata itu harus bersahabat dengan alam. Kalau enggak, nanti yang tersisa cuma puing-puing view bekas vila,” katanya sambil menyelipkan pesan ekologis.

Kampus Turun Gunung: Ilmu Bukan Cuma di Kelas
Dari dunia kampus, hadir Edriana Pangestuti dari Universitas Brawijaya. Ia menegaskan bahwa tridharma perguruan tinggi harus nempel di lapangan: kurikulum disesuaikan, riset diarahkan, dan mahasiswa diajak nguli cerdas di desa wisata.
“Kami tak mau mahasiswa lulus jadi pengangguran penuh teori. Kami mau mereka jadi penggerak desa, bukan pengamat Instagram,” ucap Edriana penuh daya.
Gareng Ngomong: Wisata Itu Gotong Royong, Bukan Monopoli
Nah, dari semua pidato, satu hal yang kentara: Kota Batu lagi nyusun komposisi orkestra wisata. Ada drum hukum, bass keamanan, melodi kampus, dan vokal pemerintah. Jangan sampai masing-masing main sendiri, kayak organ tunggal kehabisan baterai.
Pariwisata lestari itu bukan cuma soal bangun vila dan tempat selfie, tapi juga:
Ilmu yang membumi
Investasi yang adil
Lalu lintas yang waras
Lingkungan yang disayang
Warga yang dilibatkan
Closing Statement a la Petruk:
“Jangan cuma mikir gimana wisatawan datang, tapi pikirkan juga gimana anak cucu masih bisa napak di bumi Batu yang adem, ayem, dan tetap ngangenin. Kalau bisa bareng-bareng, ngapain harus sendirian?”
Tagar:
#BatuBerkelanjutan #OneVillageOneDestination #PariwisataHijau #WisataTanpaMacet #Batu2025Lestari #GarengPetrukNews
















