BATU— Udara sejuk pegunungan Batu pagi itu mendadak riuh. Bukan karena operasi penangkapan preman, bukan pula karena sidak mafia pupuk. Tapi karena para anggota Polres Batu sedang… Gobak Sodor!
Iya, jenengan tidak salah baca. Dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-79, Polres Batu bikin acara olahraga bersama, Rabu, 11 Juni 2025. Lengkap dengan Bhayangkari dan permainan tradisional macam “memindahkan belut ke dalam botol”—yang entah siapa yang menang, belutnya atau botolnya.
Kapolres Batu, AKBP Andi Yudha Pranata, tampil semringah. “Olahraga ini buat jaga kesehatan, sekaligus jaga kewarasan. Polisi juga manusia, kadang perlu ngelawak sambil lari-lari,” katanya sambil memegang mikrofon, bukan pentungan.
Acara ini, kata beliau, adalah bukti bahwa polisi sekarang tak cuma jago pasang garis kuning, tapi juga bisa pasang strategi di lapangan Gobak Sodor. Silaturahmi, kekompakan, dan otot betis diasah dalam satu paket.
> “Yang penting sehat. Soal kalah lomba, itu urusan nanti. Yang penting jangan kalah dari rasa malas,” ujar beliau sambil melirik anggota yang nyender di tenda konsumsi.
—
Bhayangkara dan Belut: Filosofi Keamanan Nasional?
Uniknya, salah satu lomba yang bikin geger adalah “memindahkan belut ke dalam botol.” Dalam filosofi Gareng Petruk, ini mengandung makna mendalam: menangkap yang licin dan memasukkannya ke tempat yang tepat. Semacam analogi menangkap koruptor yang licin kayak belut dan… eh, tunggu, itu kompetensi siapa ya?
Kegiatan ini bukan tanpa makna. Dalam dunia di mana politik makin licin dan hukum kadang tumpul ke atas, permainan ini mengandung harapan: semoga yang licin bisa digenggam, bukan sekadar difoto lalu dilepas.
—
Bazar, Bhayangkari, dan Bhayangkara: Sebuah Trinitas Pembangunan?
Acara juga dimeriahkan dengan Bazar Bapokting (Bahan Pokok Penting). Kerja sama bareng Pemkot Batu dan Jatim Park Grup. Rakyat bisa belanja, polisi bisa belut-belutan, dan semuanya berakhir damai. Konsep ini menarik: sinergi tiga pihak—pemerintah, polisi, dan swasta—dalam suasana yang tidak menegangkan.
Salah satu warga, Bu Poniyem, komentarnya sederhana namun puitis:
> “Lha ini to yang namanya Bhayangkara? Aku kira cuma muncul pas demo doang.”
—
Peringatan atau Peringatan?
Hari Bhayangkara, yang tahun ini sudah memasuki usia ke-79, sejatinya bukan hanya pesta dan joget bersama. Tapi juga saat yang pas untuk merenung:
Apakah tugas pokok polisi sudah benar-benar melindungi dan mengayomi rakyat, atau masih sibuk jaga galian C ilegal?
Apakah semangat kebersamaan hanya hadir saat lomba, tapi hilang saat rakyat cari keadilan?
> “Juara bukan hal utama,” kata Kapolres.
Tapi… bagaimana kalau rakyat yang jadi korban, siapa juara bela mereka?
—
Pesan Sufistik dari Gareng Petruk:
Wahai para Bhayangkara, Kalau tubuh kuat dan otot lentur,
Namun hati keras dan nurani kabur,
Apalah arti joget belut di pagi buta?
Kalau rakyat tetap takut lapor karena takut tak dipercaya?
Kalau aparat sibuk joget TikTok,
tapi tak sempat dengar jerit petani di dusun pelosok,
Apalah arti bazar meriah penuh spanduk,
Kalau hukum masih tebang pilih kayak tanaman hidroponik?
—
Penutup yang (Agak) Serius
Hari Bhayangkara adalah saat untuk kembali ke rakyat. Menjadi pelindung bukan hanya soal seragam dan pelatihan bela diri, tapi juga bela nurani.
Semoga belut yang dimasukkan ke botol hari ini, bukan simbol dari rakyat yang dimasukkan ke jeruji tanpa proses adil.
Semoga Gobak Sodor hari ini, bukan simbol dari rakyat yang kejar-kejaran dengan keadilan yang kabur.
Dirgahayu, Bhayangkara ke-79.
Semoga makin sehat, makin sadar, dan makin berpihak pada mereka yang tak bersuara.
—
📍 Catatan kaki Gareng Petruk:
Kalau pejabat bisa ikut lomba joget, rakyat juga pingin lihat lomba tangkap mafia. Tapi jangan tangkap yang sudah pensiun, ya. Tangkap yang masih aktif dan hobi kongkalikong!
📝 Sumber: Polres Batu, warga Kota Batu, dan suara belut yang sempat diwawancara sebelum masuk botol.
















