Jember – Hari itu, Tiara Jember Park Waterboom mendadak lebih ramai dari biasanya. Bukan karena diskon tiket atau promo buy one get one free, tapi karena rombongan SDN Rowotamtu 02 dari Dusun Nogosari ngadain acara perpisahan yang bisa dibilang sederhana, tapi sukses bikin haru dan heboh dalam satu paket tumpeng!
Bayangin, sekitar 80 orang, terdiri dari siswa kelas 6, wali murid, dan guru pendamping tumplek blek di waterboom sambil bawa nasi kotak dan semangat kangen-kangenan. Dari jam 8 pagi sampe matahari mulai ngesot ke barat, mereka bersuka ria: ada yang foto-foto, ada yang main seluncuran, ada juga yang sibuk cari tempat teduh biar nggak gosong kayak tempe mendoan ketinggalan goreng.
“Perpisahan ini ide wali murid, biar murah meriah tapi tetap berkesan,” ujar Dr. Ananda Sabrina Musdalifah sambil sesekali ngelap keringet di bawah topi lebar.

Iya, acara ini bukan hasil proyek dinas, bukan pula hasil keringat proposal yang dijilid doff tebal—tapi murni swadaya warga sekolah. Wali murid patungan, sewa mobil, bawa bekal, dan yang paling penting: bawa hati yang tulus ingin merayakan akhir dari masa SD anak-anak mereka.
Dan seperti biasa, di antara gempita tawa, ada satu suara bocah yang mendadak bikin semua jadi mellow. Namanya Naura Azkah Bariroh. Dengan suara gemetar dan mata sembab, ia ngucapin terima kasih ke orang tua, guru, dan teman-teman. Katanya, ini perpisahan yang nggak akan bisa dilupain seumur hidup.
“Kami mohon maaf kalau selama ini banyak salah. Kami senang tapi juga sedih. Ini terakhir kalinya kami main bareng di satu tempat,” ucap Naura sambil sesenggukan. Bahkan yang bawa mie goreng pun jadi ikut mewek.
Ibu Asih Handayani, sang kepala sekolah, juga angkat suara. Tapi bukan naik panggung bawa mikrofon, melainkan dengan nada lembut dan penuh kebijaksanaan ala ibu yang sudah kenyang ditempa RPP dan akreditasi.
“Kami memahami, menjelang masuk SMP, orang tua pasti banyak kebutuhan. Jadi kami semula usul cukup doa bersama. Tapi kalau wali murid pengin lebih, ya kami dukung, asal tidak memberatkan,” jelasnya.

Ya, di tengah dunia pendidikan yang makin sering dikomodifikasi, acara seperti ini jadi oasis. Tak ada pungutan aneh-aneh, tak ada permintaan ganti seragam khusus buat foto perpisahan, tak ada baliho besar yang muat muka semua guru plus sponsor. Yang ada cuma: air mata, air kolam, dan air mineral botol ukuran 600 ml.
Dan inilah kritik sosial ala Gareng Petruk: Kadang yang membuat sebuah perpisahan jadi bermakna bukanlah megahnya gedung atau mahalnya katering, tapi rasa kebersamaan dan keikhlasan. Lha wong perpisahan presiden aja kadang dingin dan penuh basa-basi, kok ini anak SD bisa segitu tulusnya. Mbok ya pejabat belajar sama anak-anak ini.
Karena pada akhirnya, pendidikan sejati bukan tentang seberapa banyak fotomu di banner, tapi seberapa dalam kenanganmu di hati orang-orang.
Selamat jalan anak-anak SDN Rowotamtu 02. Teruslah belajar, jangan takut mimpi, dan semoga kelak kalian bisa mengubah dunia—minimal, jangan sampai ikut-ikutan menyusahkan rakyat seperti sebagian orang dewasa.
Dari waterboom Jember, kami lapor sambil cebur ceburan rasa haru.
Eko Suprihono | garengpetruk.com
Di balik kolam ada harapan. Di balik perpisahan ada kenangan.
















