Hari Rabu (4/6), bukan cuma pasar yang ramai, tapi juga Balai Desa Ponokawan di Krian, Sidoarjo. Bukan karena ada dangdutan atau lelang kambing, tapi karena ada kolaborasi heboh antara Polda Jatim dan UNESA—meluncurkan program Klinik Tani Sirkular Milenial (KTSM) Semeru. Wah, dari namanya saja sudah kayak startup agrikultur rasa Silicon Valley. Yang beda, ini taninya pakai seragam!
“Lha ini baru canggih,” kata Gareng Petruk, yang pagi itu duduk anteng sambil ngelus-elus cangkul warisan bapaknya. “Biasanya polisi urus maling, sekarang urus mulsa. Biasanya mahasiswa bikin skripsi, sekarang bikin demplot. Dunia benar-benar jungkir balik, bro!”
—

Polisi Turun Sawah: Bukan Tangkap Maling, Tapi Nangkep Ilmu
Kegiatan ini digelar serentak via Zoom, tapi yang di desa-desa tetap ndeso—hangat, ramah, dan ada suguhan teh manis. Hadir para jenderal, dosen, Bhabinkamtibmas, ibu-ibu PKK, karang taruna, sampai kelompok tani yang masih setia nginjek lumpur daripada ngejar cuan di kota.
AKBP Warsono dari Biro SDM Polda Jatim bilang kalau program ini “mengintegrasikan kepolisian dengan pertanian berbasis teknologi.”
Gareng Petruk sempat bengong. “Wah, jangan-jangan nanti ada razia pupuk bersubsidi, dan penyuluhan lewat tilang!”
Tapi ternyata niatnya mulia. Polisi dan petani disatukan bukan buat pamer selfie di tengah sawah, tapi benar-benar untuk menguatkan ketahanan pangan dari akar rumput—atau lebih tepatnya, dari akar padi.
—
Training of Trainer: Polisi Belajar Menanam, Bukan Menangkap
Dalam sesi ToT alias Training of Trainer, para Bhabinkamtibmas diajari ilmu pertanian.
Mereka belajar soal pupuk organik, strategi komunikasi dengan petani, dan cara pendekatan sosial yang lebih manusiawi. Gareng Petruk ngangguk-ngangguk, “Wah ini cocok, daripada pendekatan pakai sempritan, mending pendekatan pakai bibit kangkung.”
Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Christian Tobing pun menambahkan, bahwa program ini penting demi suksesnya Asta Cita Presiden Prabowo.
Gareng Petruk sempat nyeletuk, “Asta Cita-nya bagus, asal jangan jadi Asta Nunggu Dana Turun.”

—
Kritik Petruk: Canggih Oke, Tapi Jangan Asal Pamer Program
Gareng Petruk, meski cuma rakyat kecil, tetap kasih catatan penting:
Inovasi jangan cuma sebatas seremoni. Kalau habis launching trus bubar jalan, ya petani tetap panen keringat sendiri.
Libatkan anak muda, jangan cuma disebut-sebut. Petani milenial harus dikasih ruang, bukan cuma difoto pas megang cangkul buat konten medsos.
Pastikan ilmu bisa diterapkan. Jangan sampai polisi paham tanam tomat, tapi gak tahu cara bantu warga ngurus pupuk bersubsidi yang hilang ditelan birokrasi.
—
Akhir Kata dari Gareng Petruk:
> “Negara kuat bukan karena senjatanya, tapi karena rakyatnya kenyang dan petaninya senang.”
Jadi, kalau polisi sekarang belajar cocok tanam, itu bukan kelucuan. Itu sinyal bahwa negeri ini mulai sadar: urusan perut lebih penting daripada kejar like di TikTok.
Semoga KTSM Semeru bukan hanya singkatan keren, tapi bisa jadi jalan terang buat masa depan pangan negeri ini.
Dan ingat, sawah bukan tempat selfie, tapi tempat suci—karena di situlah kita bertaruh pada nasi, bukan narasi.
Gareng Petruk pamit dulu, mau bantu nenek tanam bayam pakai ilmu hasil ToT tadi.
Sapa tahu jadi Bhabinkamtibmas swadaya di kampung sendiri.
—
Taufik dan Tim Gareng Petruk
Karena kritik harus bisa bikin mikir, tanpa bikin meringis.
















