Jayapura, 9 Juli 2025 – Laut Papua tak akan pernah lepas. Titik!
Kalimat itu bukan slogan indah dari baliho kampanye atau jargon lomba pidato 17-an. Itu adalah sumpah tegas yang hidup di dada para prajurit penjaga laut timur Indonesia. Dan di garis depan ketegasan itu, berdiri kokoh sosok perwira marinir: Brigadir Jenderal TNI Marinir F.J.H Pardosi, Komandan Lantamal X Jayapura, Komando Armada III TNI AL.
Di bawah kepemimpinan pria satu ini, Lantamal X tak cuma jadi pangkalan militer, tapi juga jadi panggung pembuktian bahwa negara hadir dan tak gentar menjaga tiap jengkal laut Nusantara, apalagi laut di Tanah Cenderawasih.
“Papua adalah Indonesia. Lautnya, rakyatnya, budayanya, semua bagian dari kekuatan besar Nusantara. Dan siapapun yang coba ganggu, siap-siap berhadapan dengan tembok kokoh bernama TNI AL,” tegas Brigjen Pardosi, Jumat (4/7), sambil menatap horison timur, di mana Merah Putih berkibar di atas dermaga Lantamal X.
Brigjen Pardosi: Panglima Maritim dengan Wibawa dan Wawasan
Namanya memang tak sering terpampang di layar infotainment. Tapi bagi siapa saja yang mencintai laut, kedaulatan, dan Papua, nama Brigjen TNI Marinir F.J.H Pardosi adalah sinonim dari ketegasan, kecerdasan, dan pengabdian. Dalam waktu empat bulan kepemimpinannya di Jayapura, aura negara begitu terasa di perairan timur.
Bukan hanya soal patroli dan persenjataan, tapi juga diplomasi, kerja sama, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir. Seperti yang terlihat saat ia menyambut Dubes Seychelles Nico Barito, 17-19 April lalu. Bukan sekadar acara seremoni—itu adalah panggung internasional untuk menegaskan bahwa Indonesia siap jadi poros maritim Pasifik.
Gareng: “Pak Jenderal ini kayak Wi-Fi nasional!”
Gareng dari dapur redaksi pun nyeletuk,
“Ini Pak Jenderal bukan cuma jaga laut, tapi juga jaga harga diri bangsa! Wi-Fi aja kalah, sinyal kehadiran negaranya nyampe sampai atol paling ujung!”
Sementara Petruk, sambil ngupas pisang, nambahin,
“Separatis? Infiltrasi? Propaganda? Semua itu mungkin punya jaringan, tapi kalo udah ketemu tembok Lantamal X, ya cuma bisa buffering!”
Dari Laut Hingga Ekonomi Biru: Tugas Berat, Langkah Ringan
Yang menarik, Brigjen Pardosi bukan cuma bicara soal militer, tapi juga mendukung langsung visi Presiden Prabowo Subianto tentang Asta Cita, terutama penguatan ekonomi biru dan kemandirian pangan di wilayah perbatasan.
“Laut Papua bukan zona abu-abu. Ini benteng nasional. Kita tidak bisa menyerahkan satu titik pun ke kekuatan lain. Karena laut ini adalah nadi pertahanan, jalur ekonomi, dan masa depan rakyat Papua,” ujarnya.
Papua Bukan “Daerah Rawan”, Tapi Daerah Diperhatikan
Dalam narasi nasional, seringkali Papua diberi label miring: “daerah rawan”, “zona merah”, atau “wilayah khusus”. Tapi bagi Brigjen Pardosi, Papua adalah pusat. Bukan pinggiran.
Dari armada patroli hingga sinergi dengan warga adat, semua langkahnya menegaskan satu hal: Papua dijaga bukan karena lemah, tapi karena kuat dan penting.
Kekuatan Ada di Timur
Brigjen Pardosi adalah gambaran bahwa kekuatan Indonesia tak melulu ada di barat. Di ujung timur, di balik awan lembah Cyclops dan ombak Teluk Yos Sudarso, berdiri prajurit yang tak hanya berseragam loreng, tapi juga berpikiran panjang dan hati merah putih.
Dan selama pria ini memimpin Lantamal X, jangan coba-coba main-main di Laut Papua. Karena di sana, ombak mungkin lembut, tapi ketegasan negara tak pernah surut.
#PapuaAdalahIndonesia
#LautTakBisaDibeli
#TNIALDiGarisDepan
#BrigjenPardosiSangPenjagaTimur
#GarengPetrukLaporDariJayapura










