Bertempat di ruang kelas Fakultas Tarbiyah yang biasanya jadi medan tempur skripsi dan kejar deadline, kali ini suasana mendadak beda, lho! Rabu, 21 Mei 2025, Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember kedatangan tamu spesial: Andi Suprapto, praktisi branding sekaligus dosen yang ngerti DKV lebih dari mahasiswa ngerti skripsi bab tiga.
Tema kuliahnya?
“Kreatif Itu Ibadah”
Waduh, ini bukan khutbah Jumat, tapi bisa bikin hati tercerahkan dan pikiran ke-trigger buat mikir: “Oalah, ngedit video itu bisa jadi pahala tho?”
Dalam kuliah kilat yang lebih seru dari sinetron Ramadan, Pak Andi ngasih pemahaman soal pentingnya media pembelajaran visual untuk siswa SMA/SMK yang otaknya udah keburu penuh sama konten TikTok, story IG, dan reels yang isinya kadang lebih banyak joget daripada isi kepala.
“Kalau media pembelajaran kita itu ngebosenin, ya sama aja ngasih nasi tanpa lauk. Kenyang sih, tapi nggak nikmat. Pesan dakwah bisa mandek di tengah jalan,” ujar Pak Andi sambil menunjuk layar presentasi yang desainnya bikin PowerPoint dosen lain mendadak pensiun dini.
Ia juga menyentil dua hal penting:
1. TOR (Term of Reference) – bukan band rock, tapi acuan strategi bikin media yang ngerti psikologi, geografi, sampai gaya hidup audiens.
2. S-M-C-R-E – bukan nama obat generik, tapi teori komunikasi: Source, Message, Channel, Receiver, Effect. Pokoknya kayak resep dokter buat bikin pesan dakwah nyampe dengan selamat ke sanubari.
Yang menarik, mahasiswa PAI A6 nggak cuman disuruh nyatet. Mereka malah diajak diskusi, bahkan pamer karya! Dari video tutorial sampai film dokumenter, hasilnya cukup bikin dosen-dosen DKV bisa ngelirik sambil bilang, “Eh, ini anak agama kok ngartis banget sih?”
“Saya apresiasi banget. Mahasiswa PAI bisa bikin karya visual yang bagus, padahal mereka bukan dari dunia desain. Ini keren banget,” ujar Pak Andi yang kelihatan hampir baper melihat video berjudul “Akhlak di Era Digital: Antara Filter dan Fitrah”.
Pak Muhammad Yahya, dosen senior yang wajahnya udah jadi langganan seminar nasional, juga ikut nimbrung.
“Kita ini mendidik calon guru, bukan calon buzzer. Tapi kalau bisa dakwah lewat media yang menarik, kenapa enggak? Kita harus peka teknologi,” ujarnya sambil memperlihatkan slide PPT yang kini kalah keren dibanding mahasiswa bimbingannya.
Acara ini jadi bukti kalau UIN KHAS Jember bukan cuma bisa ngaji dan hafalan hadits, tapi juga bisa beradaptasi dengan zaman. Siapa bilang pendidikan Islam itu jadul? Di sini, dakwah bisa lewat animasi, desain infografis, bahkan dokumenter ala Netflix – asal isinya tetap syar’i dan bermakna.

Pak Andi pun menutup dengan gaya khas praktisi branding,
“Semoga pola pendidikan seperti ini bisa bikin UIN KHAS Jember makin besar, segede nama KH. Mohammad Siddiq, tokoh panutan kita semua.”
Dan kami dari redaksi GarengPetruk.com cuma bisa bilang:
“Yowis to, piye maneh, ngaji zaman now kudu melek desain, biar Islam makin keren dan nggak
kalah saing sama konten prank!”
















