Gareng: “Truk, kok aku akhir-akhir ini sering lihat orang ngaku nasionalis, tapi kelakuannya kok kaya penumpang gelap NKRI ya?”
Petruk: “Lah, kuwi sing disebut kampret nasionalis, Reng. Nasionalisme-nya rame di medsos, tapi kalau disuruh iuran buat kebersihan RT langsung ngilang kaya jin!”
Kampret Nasionalis Itu Apa, Sih?
Mereka bukan hewan, walau bau-bau kampretnya kentel. Mereka manusia, tapi kalau bicara soal nasionalisme, nadanya lebih tinggi dari toa masjid subuh. Hebohnya luar biasa—bela negara, cinta tanah air, NKRI harga mati—tapi pas pemilu nyoblos karena amplop dan mie instan.
Mereka jualan nasionalisme lewat status Facebook, caption Instagram, atau video TikTok. Tapi di dunia nyata? Nggak ngerti bedanya Garuda Pancasila sama lambang klub bola.
Ciri-Ciri Kampret Nasionalis
1. Profil Sosmed Pakai Bendera, Tapi Duit Lari ke Luar Negeri
Bangga banget pakai foto profil berlatar merah putih. Tapi rekening bank-nya? Di Singapura. Sekolah anak? Di Australia. Sembako warga? “Bukan urusan saya!”
2. Ngaku Pancasilais, Tapi Tuhannya Suka Maki Maki, Tiap hari ngomongin Pancasila. Tapi beda pendapat dikit langsung main label: “Pengkhianat bangsa!” Lah, katanya sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab, kok malah jadi barbar?
3. Nggak Pernah Absen Ngomong NKRI, Tapi Alergi Gotong Royong, Teriak “NKRI harga mati!” sambil rebahan di sofa. Begitu diminta bantu tanam pohon di kampung, langsung jawab: “Saya sibuk nge-podcast soal nasionalisme, Bro.”
4. Paling Ribut Kalau Timnas Kalah, Paling Diam Kalau Warga Susah, Timnas kalah langsung ngamuk: “Memalukan sebagai bangsa!”
Tapi pas tetangganya nggak bisa bayar sekolah, jawabnya: “Itu mah urusan pribadi.”
Nasionalisme Dijadikan Dagangan
Kampret nasionalis tahu betul: nasionalisme itu laku dijual. Jadilah kaos-kaos bertuliskan “Cinta Tanah Air”, stiker “NKRI Harga Mati”, sampai kopi sachet rasa “Garuda Bangkit” — padahal bijinya impor semua.
Warung-warung pun ikutan:
Warung Sembako Merah Putih
Laundry NKRI
Tahu Bulat Nasionalis
Tapi giliran ditanya bayar pajak? “Eeh… belum ngurus NPWP, Mas…”
Panggung Kampret Nasionalis di Tahun Politik
Tiap mau pemilu, mendadak banyak yang nasionalismenya naik daun. Semua tiba-tiba jadi pahlawan digital: rajin posting foto bendera, potret Soekarno, video marching band. Tapi waktu pandemi, malah ngumpet, nunggu bansos turun.
Wartawan nanya:
“Apa alasan Bapak nyalon legislatif?”
Jawabnya: “Karena saya cinta bangsa ini.”
Padahal rekam jejaknya? Lebih cinta saldo rekening pribadi.
Nasionalisme Sejati Nggak Perlu Koar
Nasionalisme nggak perlu diributin. Nggak perlu hashtag panjang. Cukup hadir dalam tindakan kecil:
Petugas kebersihan yang tetap kerja meski gajinya pas-pasan.
Guru honorer yang mengajar dengan cinta.
Petani yang terus menanam, walau harga pupuk mencekik.
Mereka mungkin nggak viral, tapi merekalah nasionalis sejati.
Nasionalisme Butuh Akal Sehat, Bukan Drama
Petruk: “Jadi, Ren, kalau lihat kampret nasionalis ngibarin nasionalisme di media sosial, tapi hidupnya isinya nyinyir dan ngibuli rakyat, cukup senyum aja.”
Gareng: “Bener, Truk. Karena nasionalisme yang bener itu nggak cuma di layar hape, tapi di laku hidup sehari-hari.”
Redaksi GarengPetruk.com
Di sinilah satire bertemu logika, dan nasionalisme dikupas dengan tawa—biar nggak kebablasan jadi kampret.
















