Jepara (garengpetruk.com) – Kalau biasanya berita dari Jepara itu soal ukiran halus dan pantai kece, kali ini yang bikin geger justru “ukiran kelam” di dunia maya. Seorang pemuda berinisial S (21) sukses bikin satu Indonesia ngamuk karena aksi bejatnya yang memakan korban 31 anak. Bukan anak ayam, tapi anak manusia yang lagi lucu-lucunya belajar hidup.

Predator digital ini bukan cuma lancip jari-jemarinya di keyboard, tapi juga licin lidahnya di dunia maya. Modusnya? Biasa, modus operandi level iblis. Pelaku memanfaatkan aplikasi Telegram dan media sosial buat menjaring korban, mayoritas pelajar. Sekali masuk, korban dimanipulasi, dimutilasi harga dirinya, dan dibiarkan trauma seumur hidup.
Polisi Turun, Tapi Kok Selalu “Setelah Kejadian”?
Untungnya, Bareskrim Polri nggak tinggal diam. Brigjen Pol Nurul Azizah dari Direktorat PPA-PPO bilang pihaknya udah turun gunung dengan back-up tim forensik, psikolog, hingga tenaga medis. Tapi Gareng nyeletuk sambil ngopi, “Ibu, bagus sih gerak sekarang. Tapi netizen nanya: ke mana aja waktu anak-anak ini diterkam pelan-pelan di ruang digital?”
Petruk yang dari tadi diem, tiba-tiba nyeletuk, “Apa mungkin kita terlalu sibuk ngejagain moral orang lain, sampe lupa jaga keselamatan anak sendiri?”

31 Korban, dan Kita Masih Asyik Scroll-Scroll?
Dari hasil penyelidikan Polda Jawa Tengah, pelaku S udah menjaring 31 korban dan mungkin lebih. Kombes Pol Dwi Subagio bilang masih ada kemungkinan korban lain. Tapi di tengah gegap gempita berita, ada suara hati kecil yang nanya: “Kenapa anak-anak kita bisa gampang banget jatuh ke perangkap predator online? Di mana kita saat mereka butuh pegangan?”
Sekolah sibuk ngejar target kurikulum. Orang tua sibuk jadi konten kreator keluarga harmonis. Negara? Kadang sibuk debat RUU yang nggak nyambung sama kebutuhan rakyat. Anak-anak? Dibiarkan berenang di kolam digital yang isinya bukan cuma informasi, tapi juga predator camouflaged as followers.

Kritik Bercanda Tapi Serius
Gareng bilang, “Kita ini negara yang katanya religius, agamis, ramah anak. Tapi begitu ada kasus kekerasan seksual, reaksinya selalu panik-panik setelah nasi jadi bubur, bahkan kadang buburnya udah basi.”
Petruk menimpali, “Mungkin kita perlu bikin ‘Manasik Digital’, biar anak-anak tahu cara berhaji ke akhlak baik dan melempar setan yang suka DM tengah malam.”
Penutup: Jangan Nunggu Viral Baru Bergerak
Kasus ini bukan cuma PR buat polisi, tapi PR nasional. Dari sekolah, orang tua, komunitas, sampai pejabat yang hobi live TikTok sambil gelar bantuan—semua harus ikut tanggung jawab. Lindungi anak bukan cuma dengan poster di sekolah, tapi dengan empati, literasi, dan keberanian buka suara.
Kata Gareng sambil sedot es kopi: “Anak-anak itu bukan cuma aset masa depan. Mereka juga korban masa kini kalau kita terus sibuk mikirin like dan lupa ngecek DM anak sendiri.”
(GarengPetruk.com – Ngabari, Ngegasin Nurani, dan Ngelawak Biar Nggak Gila)















