Di negeri Awan, tempat para pejabat sering keliru bedain antara “wakil rakyat” dan “wakil pemilik modal,” terjadi lagi kisah klasik yang bikin Gareng geleng kepala dan Petruk garuk-garuk betis. Ada Undang-Undang yang larinya kayak kuda balap – itu dia, si UU BUMN – dan ada yang nasibnya mirip sandal jepit ilang sebelah di masjid – yakni, UU Perampasan Aset.
Gareng bertanya: “Lho, kenapa yang satu bisa langsung disahkan sambil ngopi-ngopi, sedangkan yang satunya kudu nunggu nasib kayak jodoh yang nggak datang-datang?” Petruk menjawab: “Ya mungkin karena yang satu bisa bikin nyaman pemilik duit, yang satu lagi malah bisa ngerebut harta hasil nyolong. Siapa juga yang mau ngebut buat itu?”
Legislasi: Antara Serius dan Serius Pura-Pura
Di negeri Awan, proses legislasi itu mirip sinetron: panjang, berliku, penuh kejutan, dan kadang nggak jelas ending-nya. UU BUMN bisa disahkan dalam waktu relatif kilat, padahal undang-undang ini akan mengatur harta negara, perusahaan besar, dan (jangan lupa) peluang bisnis untuk para “pemilik kepentingan”.
Sementara itu, UU Perampasan Aset – yang sejatinya bisa jadi sapu bersih untuk maling kelas kakap – malah dikasih nasib kayak mantan yang nggak pernah diajak balikan: dilihat doang, tapi nggak pernah diajak serius.
Wakil Rakyat atau Wakil yang Dirakyatkan?
Rakyat bingung. Beneran bingung. Masa iya, undang-undang buat nyelamatin duit negara ditaruh di pojok, sementara yang buat memperbesar kuasa bisnis ditaruh di meja makan?
Petruk nyeletuk sambil nyeruput kopi: “Jangan-jangan, UU Perampasan Aset itu kayak piring kaca di rumah mertua. Semua orang takut makainya karena kalau pecah, bunyinya bisa kemana-mana.” Sementara Gareng nyeletuk, “Atau mungkin mereka takut kesandung sendiri. Kalau perampasan aset disahkan, bisa-bisa asetnya sendiri yang kena semprit.”
Lobi-Lobi dan Bisik-Bisik Maut
Lobi itu bukan cuma tempat duduk di hotel, tapi juga tempat bisik-bisik kepentingan dalam politik negeri Awan. Kadang di ruang rapat, kadang di lapangan golf, kadang di grup WhatsApp yang isinya bukan rakyat, tapi para “penentu arah bangsa”.
Dan begitulah. Rakyat teriak-teriak, “Mana UU yang bisa berantas korupsi?” Tapi jawabannya selalu, “Kami masih kaji, sabar ya.” Padahal, kalau ada proyek infrastruktur yang butuh payung hukum, langsung rapat mendadak sambil nyalain AC 20 derajat.
Analisis Petruk: Ketimpangan Rasa dalam Legislasi
Petruk mencoba menganalisis dengan gaya filsuf warung kopi. “UU BUMN itu kayak nasi goreng spesial: ada telur, ayam, dan sosis. Semua orang pengen makan. Tapi UU Perampasan Aset? Itu kayak jamu brotowali. Pahit. Tapi penting. Cuma sayangnya, yang bisa minum cuma orang-orang kuat iman dan nggak punya dosa keuangan.”
Gareng mengangguk setuju: “Makanya jangan heran kalau UU ini nasibnya kayak naskah lama di Google Drive, diarsipkan, dikasih label ‘nanti aja’.”
Harapan: Legislasi Bukan Dagelan
Rakyat negeri Awan udah capek nonton dagelan yang itu-itu aja. Mereka ingin tawa yang sehat, bukan karena terpaksa. Mereka ingin UU yang adil, bukan yang cepat karena didorong oleh kantong tebal dan janji jabatan.
“Hukum itu mestinya netral, kayak air putih,” kata Petruk. “Bukan kayak sirup yang rasanya tergantung siapa yang bikin dan berapa banyak gulanya.”
—
Kesimpulan Gareng dan Petruk (Versi Ngopi Tengah Malam):
> “Kalau negeri ini pengin maju, jangan cuma kasih karpet merah buat UU yang disukai elite. Kasih juga panggung buat UU yang dibutuhkan rakyat. UU Perampasan Aset itu bukan mimpi buruk, tapi alat untuk bersih-bersih rumah kita sendiri. Kalau takut bersih, ya jangan ngaku pengabdi negeri!”
—
Batu, Negeri Awan, 19 Mei 2025















