Tangga, Teh, dan Tanggungan Nurani
Wahai rakyat jelata dan netizen cerdas bin cerewet! Kali ini kita bukan bahas harga cabai, bukan juga debat TikTok, tapi sesuatu yang naik-naik ke puncak gunung: tangga! Bukan sembarang tangga, tapi anak tangga pabrik teh yang dinaiki oleh tokoh elit dengan semangat bocil habis nonton Naruto.
Ada Tomy Winata, sang konglomerat. Ada KDM (Kang Dedi Mulyadi), si mantan bupati yang kini makin lincah. Dan tak lupa, bintang tamu kita hari ini: Dr. H. Mulyadi, MMA, anggota DPR RI Komisi VI dari Dapil Jabar 5 Kabupaten Bogor, yang hadir bukan sekadar tepuk tangan, tapi juga tepuk dada—menandakan hatinya ikut bicara.
—
Suara Dr.H.Mulyadi,MMA : Ketika Tangga Bukan Sekadar Naik-Turun
Dalam peresmian Masjid Baitul Hikmah dan pabrik teh organik di Cianjur Selatan, Dr H.Mulyadi tampil seperti biasa: rapi, sopan, tapi jangan salah—kata-katanya bisa bikin DPR mikir dua kali (kalau mau mikir, ya…).
Beliau bilang:
“Memberikan fasilitas sarana ibadah sekaligus lapangan pekerjaan, ini menjadi bukti bagi kita untuk terus mengisi kemerdekaan dengan membangun jiwanya dan juga badannya.”
Weleh, ini baru namanya bumbu rendang kebangsaan: ada spiritualitas, ada ekonomi, dan ada visi. Bukan cuma foto-foto sambil senyum doang.

—
🎯 Sindiran Lembut ala Dr.H. Mulyadi,MMA
Ucapan Dr.H. Mulyadi kayak teh organik: pahit sedikit, tapi menyegarkan. Beliau mengingatkan, jangan sampai pembangunan hanya jadi seremoni. Kalau cuma potong pita dan lomba tangga, bocah SD juga bisa.
Mulyadi bicara soal kolaborasi pemerintah dan swasta, tapi dengan makna: jangan hanya kolaborasi antara penguasa dan pengusaha, tapi juga kolaborasi dengan rakyat biasa, tukang cilok, petani, guru honorer, dan sopir ojol!

—
Gareng & Petruk: “Pak Mulyadi, Tangga Sudah Bagus, Tapi Pegangan Masih Licin”
Kami sih senang banget lihat Pak Mulyadi hadir langsung, bukan sekadar wakilin dewan rakyat. Tapi kami juga mau titip salam: jangan sampai tangga yang dibangun cuma bisa dinaiki oleh mereka yang kuat dana dan jaringan.
Karena rakyat juga ingin naik, Pak! Naik derajat, naik gaji, naik level hidupnya.
—
Penutup: Dari Masjid ke Pabrik, Menuju Negeri Tanpa Lelah
Pak Mulyadi telah memberi contoh bagaimana bicara pembangunan tanpa menggurui. Ia datang, mendukung, dan mengingatkan: “Bangun jiwanya, bangun badannya.”
Sekarang tinggal kita semua—para wakil rakyat lainnya—ikut naik tangga ini, tapi bukan buat selfie, melainkan buat naikin harapan dan kesejahteraan rakyat.
—
Petruk nyeletuk terakhir:
“Wakil rakyat yang baik itu bukan yang sering muncul di berita, tapi yang sering muncul di hati rakyat.”
Gareng menimpali:
“Dan kalau tangganya panjang, pastikan rakyat punya lift, bukan cuma janji manis!”
—
Salam Tangga Berkah!
Karena di negeri ini, yang naik jangan cuma harga, tapi juga empati dan aksi nyata.
















