Bogor, Jawa Barat — Dalam semesta politik yang kadang lebih ribut dari toa masjid subuh, dua nama besar bersua dalam ademnya niat baik: Kang Mulyadi dan Kang Dedi Mulyadi. Bukan untuk debat capres, bukan pula bagi-bagi sembako, tapi demi Musabaqah Azan Internasional 2025, sebuah kontes yang menjadikan suara azan bukan sekadar alarm sahur, tapi gema spiritual yang menembus batas-batas geografis dan politis.
Bertempat di Masjid Darussalam, Kota Wisata Bogor, mereka bertemu bukan sebagai rival partai atau pengumpul baliho di tiap tikungan gang, melainkan sebagai saudara seiman yang sepakat: suara azan harus kembali ke hati, bukan hanya ke speaker.
> “Azan itu panggilan, bukan iklan. Maka mari kita perindah, bukan kita perlombakan demi popularitas semata,” kata Kang Dedi, sambil menyisip teh hangat, yang lebih hangat dari suasana pilpres kemarin.
DR Mulyadi, yang dikenal sebagai Pembina Pasukan 08 sekaligus Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, tak mau kalah dalam kekhusyukan. Ia bilang, “Musabaqah Azan Internasional ini bukan lomba siapa paling nyaring, tapi siapa paling menyentuh. Biar azan bukan hanya terdengar, tapi juga menggugah.”
Gareng pun manggut-manggut.
“Ini baru lomba beneran! Bukan kayak lomba nyaleg, yang menang malah yang paling banyak nyebar minyak goreng!”
—
17 Hari Menuju Langit
Acara ini rencananya akan digelar selama 17 hari, bertepatan dengan 1 Muharram 1447 H. Bukan hanya lomba azan, akan ada bazar Islami, kajian sufistik, lomba kaligrafi, hingga pelatihan toyah untuk anak muda biar paham Islam bukan cuma dari TikTok.
Konon katanya, para muazin dari 37 negara akan hadir. Dari Mesir yang lidahnya luwes memanggil Allah, sampai Uzbekistan yang ucapannya sehalus embun pagi.
Gareng jadi penasaran:
“Kenapa nggak sekalian undang negara yang paling butuh azan? Kayak Swedia atau DPR kita sendiri?”
—
Mulyadi x Mulyadi: Kolaborasi atau Cermin?
Uniknya, dua nama besar ini sama-sama bermarga Mulyadi.
Yang satu pakai gelar DR, yang satu pakai gelar “Kang”, tapi keduanya pakai hati. Mereka seperti dua sisi mata uang: satu di Senayan, satu di Tatar Sunda. Tapi kali ini, mereka sepakat, bukan soal siapa paling berkuasa, tapi siapa paling peduli suara.
Gareng nyeletuk lagi:
“Kalau semua politisi kayak gini, mungkin Indonesia nggak butuh Pemilu, cukup Musabaqah!”
—
Makna yang Menggema
Lebih dari sekadar event, Musabaqah Azan ini adalah ajakan untuk kembali mendengar.
Di tengah dunia yang bising—dari iklan, debat, hoaks, sampai jeritan cicilan—suara azan bisa jadi satu-satunya suara yang tidak memaksa, tapi memanggil.
> “Suara azan adalah suara langit. Bila kita dengar dengan hati, ia bisa jadi obat. Tapi kalau hanya didengar dengan telinga, bisa-bisa kita hanya bangun, bukan sadar,” tutur Kang Dedi, sambil tersenyum filosofis ala Ki Sunda.

—
Penutup: Dari Gareng, Untuk Kita
Gareng bilang, “Semoga acara ini bukan hanya jadi ajang selfie, tapi refleksi. Bukan sekadar lomba, tapi laku. Bukan hanya festival, tapi perjalanan spiritual.”
Dan Petruk, dari kejauhan, nyeletuk sambil ngudud:
“Kalau suara azan bisa menyatukan dua Mulyadi, siapa tahu bisa menyatukan rakyat yang udah keburu dibelah hoaks dan harga cabai.”
#AzanBukanAlarm
#DuaMulyadiSatuLangit
#GarengMenyimakTapiJugaMenggoda
—
🗞️ Media Gareng Petruk: Tempat berita datang dengan tawa, dan pulang dengan makna.
















