Setiap tanggal 1 Suro tiba, suasana langsung berubah.
Bunga tujuh rupa laris manis, keris dicuci, jimat dipoles, tombak dimandikan dengan kidung dan kembang. Pusaka-pusaka leluhur dijamas seolah kalau nggak disabunin nanti bisa ngambek dan resign jadi penjaga gaib.
Tapi, ada satu pusaka yang justru nggak pernah disentuh apalagi dicuci: hati.
Iya, hati. Tempat paling sempit tapi bisa muat segala macam dendam, tipu daya, ambisi, dan niat-niat kotor yang sering disamarkan dengan batik dan baju koko.
1 Suro: Malam Suci, Tapi Pikiran Masih Berdebu
1 Suro itu disebut-sebut malam yang sakral, malam keramat, malam penuh laku. Tapi sayangnya, laku spiritual sering cuma berhenti di ritual fisik.
Larung sesaji? Jalan.
Mubeng beteng? Jalan.
Topo bisu? Jalan.
Tapi setelah itu, mulut tetap nyinyir, pikiran tetap licik, dan kelakuan tetap toxic.
Kerismu Bersinar, Tapi Nuranimu Padam
Keris memang benda pusaka. Tapi keris tajam tidak menjamin pemiliknya tidak menusuk dari belakang.
Jimatmu sakti? Tapi rakyat tetap miskin.
Kau siram pusaka dengan air suci, tapi korupsi jalan terus tiap pagi.
“Apa gunanya memandikan tombak, kalau lidahmu masih dipakai menusuk kepercayaan rakyat?”
Hati, Niat, dan Pikiran: Itu Juga Pusaka!
Coba buka laci hatimu.
Masih ada kerak iri? Sisa-sisa ambisi busuk?
Itu yang seharusnya dijamas.
Cuci pikiranmu, bersihkan niatmu, lap keringatmu sendiri sebelum menyalahkan orang lain atas hidupmu yang berantakan.
Pusaka bukan hanya warisan fisik, tapi juga warisan moral, akhlak, empati, dan kesadaran diri.
Ritual “Jamasan Diri”: Gratis, Tanpa Bunga, Tanpa Keris
Mungkin kita perlu bikin tradisi baru:
Jamasan Diri.
Mandi sebelum mencela.
Wudhu sebelum menggibah.
Sikat gigi sebelum berbohong.
Cuci hati sebelum menuntut orang lain jadi bersih.
“Sebelum menyentuh benda keramat, coba sentuh nuranimu sendiri. Masih ada sinyal, atau sudah putus jaringan?”
Sindiran Terakhir (Sebelum Petruk Diblokir Netizen)
Negeri ini tidak kekurangan benda sakti.
Yang kurang itu: manusia sakti—yang sakti menahan diri, jujur, adil, berani introspeksi.
Kita terlalu bangga dengan peninggalan nenek moyang,
tapi tidak mewarisi kebijaksanaan mereka.
Kita warisi keris, tapi tidak kebersahajaan.
Kita pelihara jimat, tapi tidak kejujuran.
Petruk Tidak Marah, Hanya Geli
Aku bukan anti budaya. Aku justru mencintainya.
Tapi budaya tanpa makna, tanpa pembaruan, cuma jadi dekorasi upacara.
“Pusaka bukan hanya yang ditinggalkan leluhur, tapi juga bagaimana kita memperlakukan hidup kita hari ini.”
Jadi, kalau nanti malam kamu mau menjamas keris, silakan.
Tapi jangan lupa, jamas juga egomu, nafsumu, dan pola pikirmu yang mulai mengeras kayak kerak wajan.
Petruk pamit.
Mau mencuci hatiku sendiri dulu, siapa tahu masih bisa diselamatkan.
















