Hati-hati di jalan.
Kalimat sederhana, sering kita denger pas mau berangkat kerja, mau mudik, atau sekadar beli cilok ke ujung gang. Tapi sesungguhnya, “hati-hati di jalan” bukan cuma pesan emak pas nganter kita ke stasiun, tapi bisa juga jadi reminder hidup dari Tuhan lewat suara waras di kepala kita yang mulai nyeleneh karena dunia makin rame, hati makin sepi.
Lho, kok bisa? Ya bisa to, Le!
Dari lahir, kita udah kayak penumpang bis. Masih kecil, kita duduk di pangkuan emak. Wangi bedak, suara tangis, dan dot rasa stroberi jadi teman perjalanan. Masuk masa remaja, kita pindah kursi, mulai ngerasa pegang setir. Tapi sialnya, sering lupa baca rambu. Gas terus, tanpa lihat spion dosa.
Remaja tanggung, dosa matang.
Mikirnya hidup ini kayak game racing. Yang penting kenceng, kece, dan kekinian.
Lha, padahal hidup bukan cuma soal kecepatan, tapi arah. Dan arah itu kudu jelas. Masa iya mau finish di jurang?
Hati-hati di jalan, Nak…
Karena remaja bukan rest area.
Dewasa bukan tujuan akhir.
Dan tua bukan garansi bahwa kita siap pulang.
Kita ini, to Kang Mas, kayak sopir angkot yang udah hafal rute tapi tetep harus lihat rambu. Hidup tuh kayak jalan provinsi: kadang mulus, kadang berlubang, kadang banjir, kadang macet gara-gara demo atau hati yang belum bisa move on.
Dan yang lebih ngeri: kadang, kita ngerasa udah bener jalan, padahal beloknya salah.
—
Waspadalah, wahai pejalan.
Bukan cuma polisi lalu lintas yang ngintip dari balik tikungan,
Tapi juga Malaikat Raqib dan Atid yang standby 24 jam, shift-nya nggak pernah tukar, nggak ada libur nasional.
Kalau langkah kita ada maknanya—walau pelan—pahala dicatat.
Tapi kalau hidup kita cuma kayak ojol yang ngebut tapi salah alamat,
Ya… sampai rumah tetangga, ditagih dosa bukan pahala.
Jangan cuma hidup. Tapi hiduplah dengan arah.
Jangan cuma berjalan. Tapi berjalanlah dengan niat.
Jangan cuma nyari tujuan, tapi pastikan yang dituju bukan jebakan setan.
—
Lalu bagaimana caranya?
Gampang. Tapi ya ndak segampang bikin mie instan.
Kuncinya: Hati.
Kalau hati bersih, jalan jadi terang.
Kalau hati tenang, langkah jadi ringan.
Kalau hati kacau, dunia serasa genangan dosa.
Maka sebelum nyalahin nasib, nyalahin negara, nyalahin mantan,
Coba cek GPS hati kita. Masih lurus ke arah Tuhan? Atau udah belok ke mall-mall kesenangan dunia?
—
Kang Mas, Mbak Yu, dan para pejalan hidup…
Hidup ini bukan terminal. Tapi perjalanan.
Bukan sekadar dari titik A ke B, tapi dari ruh ke Rabb.
Kita ini bukan turis yang cuma pengen foto-foto dan healing,
Tapi musafir yang sedang diuji: apakah akan pulang dengan oleh-oleh pahala atau malah tas penuh dosa?
Hati-hati di jalan.
Karena kita nggak tau kapan ban bocor, kapan bensin habis, kapan kita harus berhenti,
dan ditanya:
“Sampeyan mau kemana, dan selama ini udah bawa apa?”
—
Akhir kata, semoga kita bertemu lagi…
Bukan di jalanan dunia yang penuh klakson dan debu,
Tapi di tempat yang berbeda,
Tempat di mana GPS tak dibutuhkan, karena yang kita cari sudah jadi tujuan:
Ridha-Nya.
Selamat jalan, wahai jiwa yang tenang. Semoga perjalananmu selamat.
Jangan lupa… Hati-hati di jalan. 🌙
—
Gareng Petruk,
penumpang hidup yang masih belajar baca peta iman
















