JAKARTA, garengpetruk.com – Suasana mendadak hangat, akrab, dan penuh semangat pada 19 Juli 2025, tepatnya pukul 10.00–12.00 siang di Markas Penerbit Harian Nasional Gareng Petruk. Bukan karena ada diskon kopi atau arisan ibu-ibu, tapi karena digelarnya Launching Buku “Jelajah Budaya: Kumpulan Karya dari Ruang Kuliah” oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Hukum Universitas MPU Tantular—yang kali ini berani naik level dari penikmat teori jadi pelaku budaya.
Buku ini bukan sekadar hasil karya yang, disimpan, lalu dilupakan. Ini adalah karya penuh semangat dari mahasiswa kelas Antropologi Hukum yang tidak hanya menulis, tapi juga mendirikan perusahaan penerbitan sendiri, memprakarsai ekosistem kampus preneur, dan menjadikan ruang kuliah sebagai sarang ide dan inovasi.

Motor penggerak di balik semua ini, Serepina Tiur Maida, dosen antropologi yang sudah lama menyuntikkan semangat “aksi nyata berbasis budaya” ke mahasiswanya, menyampaikan:
“Budaya itu bukan sekadar bahan ujian, tapi bahan kehidupan. Buku ini bukan hanya hasil karya tulis mahasiswa saya, tapi hasil kesadaran kolektif untuk bergerak.”

Dr. Suyud Margono, Dekan Fakultas Ilmu Hukum, juga tak bisa menyembunyikan rasa bangganya:
“Ketika mahasiswa mampu menulis, membangun usaha, dan menciptakan dampak, maka inilah wajah kampus yang kita cita-citakan: akademis, kreatif, dan bermanfaat.”

Acara yang berlangsung meriah ini dibuka resmi oleh Wakil Rektor Bidang Non-Akademik Ir. Rodeyar S. Pasaribu, M.Si, mewakili Rektor Universitas MPU Tantular. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan,
“Kami akan terus mendorong gerakan seperti ini, karena kampus yang sehat adalah kampus yang dinamis dan kolaboratif, bukan sekadar administratif.”

Acara makin hidup dengan hadirnya Talkshow Budaya, yang dipandu oleh Ir. Santiamer Silalahi sebagai moderator. Gayanya santai tapi penuh makna, bikin hadirin melek budaya tanpa merasa sedang disuruh belajar.
Salah satu tokoh yang hadir adalah Dr. Henry Pandapotan Panggabean, pengamat senior budaya Batak, yang menegaskan:
“Gerakan seperti ini harus ditiru. Ini bukan hanya launching buku, tapi launching kesadaran intelektual yang menjanjikan masa depan.”

Dari pihak Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, hadir Pupla Dirdjaja, Kabid Pembinaan Kebudayaan yang menyatakan,
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Budaya seharusnya menjadi bagian dari keseharian mahasiswa, bukan cuma dekorasi kampus.”

Dr. Agus Fanar Syukri, Peneliti Ahli Utama dari BRIN, membuka kesempatan lebar-lebar:
“BRIN terbuka untuk riset kolaboratif, dan saya melihat potensi besar dari semangat teman-teman mahasiswa di sini. Mari kita wujudkan proyek lintas ilmu dan lintas institusi.”

Salah satu yang paling pembicara yang paling muda adalah Arfian D Septiandri, S.Kom, MBA ,CCA , CCSA, CIISA , C.ED sebagai Direktur Utama Penerbit Harian Nasional Gareng Petruk, sekaligus mahasiswa Fakultas Hukum yang jadi penggerak utama:
“Ekosistem kampus preneur ini kami bangun agar budaya, hukum, dan kewirausahaan bisa jalan bareng. Kita ingin gandeng lebih banyak mahasiswa, dosen, alumni, bahkan kampus lain. Kampus ini bukan menara gading, tapi ladang perjuangan.”

Tak kalah penting, Irwan Nazri, Ketua Panitia sekaligus orkestra di balik layar, sukses menggiring satu kelas mahasiswa jadi tim produksi buku yang solid:
“Saya salut sama teman-teman yang kerja tanpa pamrih, semua demi satu hal: budaya jangan cuma jadi teori.”

Yang bikin adem, juga hadir Ibu Tri, panitia sekaligus bendahara, mahasiswa non-reguler yang justru jadi inspirasi banyak mahasiswa muda. Katanya,
“Saya merasa dihargai di sini. Usia bukan halangan untuk belajar dan berkarya.”
Sementara Grace, mahasiswi yang terkenal kreatif dan aktif di dunia digital, menyampaikan,
“Ini pengalaman yang membuka mata. Ternyata menulis dan bergerak di dunia budaya itu keren. Saya pengen ajak lebih banyak teman-teman ikut proyek berikutnya.”
Sebagai penutup acara, diumumkan juga kolaborasi magang di Firma Hukum Maps Lawyer Indonesia, terbuka untuk mahasiswa yang ingin belajar langsung dunia litigasi dan non-litigasi. Jadi selain nulis, mereka juga bisa praktik ngotot legal di dunia nyata.
Catatan Gareng & Petruk:
19 Juli 2025 bakal dikenang bukan sebagai hari libur nasional atau tanggal tua, tapi hari di mana sekelompok mahasiswa hukum membalik stereotip: bahwa mereka bukan cuma pencari nilai A, tapi penggerak budaya dan pelopor perubahan.
Sungguh, dari kampus ini, kita belajar:
“Jika budaya bisa dihidupkan lewat pena, maka hukum bisa dilunakkan dengan cinta.”
Salam Budaya, Salam Literasi, Salam Gokil Tapi Serius!
GarengPetruk.com
Biro Redaksi Budaya, Humor Serius, dan Obrolan Kritis di Bawah Pohon Tanjung
(Powered by kopi sachet dan semangat kolektif mahasiswa yang (akhirnya) paham pentingnya makna)
















