Jakarta, Harian Nasional Gareng Petruk –
Hari Jumat (18/7) itu bukan hari biasa. Bukan cuma karena tanggal tua mendekat atau cicilan motor yang belum lunas. Tapi karena di Auditorium Pusat Pelatihan Seni Budaya, Jakarta Barat, telah terjadi peristiwa langka: inagurasi pengurus Komunitas Sastra Kosakata 2025. Iya, betul. Sastra! Yang sering dipelintir jadi “sastra mandra” atau “sastra mistis”, kini bangkit dengan gaya baru—nyastra tapi nyantai, ngelit tapi enggak elit.
Acara yang penuh semangat dan harum aroma kopi sachet ini menghadirkan para seniman, akademisi, budayawan, bahkan sastrawan beraliran kenangan dari berbagai sudut Jabodetabek. Mereka berkumpul bukan untuk nyari Wi-Fi gratis, tapi untuk merayakan sastra yang masih hidup dan belum pingsan total di tengah era reels, likes, dan konten tipu-tipu.
Diresmikan Langsung, Bukan Lewat Zoom,
Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Barat, Joko Mulyono, turun langsung mengukuhkan pengurus Kosakata 2025–2027. Dalam pidatonya yang syahdu tapi tetap formal, beliau bilang:
“Kegiatan seperti ini penting. Bukan hanya membentuk karakter generasi muda, tapi juga membuktikan kalau sastra belum punah. Mari menjadikan Kosakata sebagai rumah bersama, bukan hanya tempat ngopi sambil baca puisi galau.”
Seketika hadirin bertepuk tangan, sebagian karena terharu, sebagian lagi karena AC-nya kedinginan.
Kosakata: Dari Kamus ke Komunitas
Anto Ristargie—sastrawan, pemikir, sekaligus penggagas utama Kosakata—mengibaratkan komunitas ini sebagai jembatan lintas generasi.
“Kami ingin jadikan Kosakata ini forum terbuka, bukan cuma buat ngeluh dan galau, tapi buat berbagi karya, berdiskusi, dan menulis puisi yang nggak pakai kata ‘mantan’ melulu,” ujar Anto sambil tersenyum kecut manis.
Sastrawan Turun Gunung (Bukan Gunung Medsos)
Acara makin panas ketika Jose Rizal Manua, tokoh puisi senior hadir membacakan puisi yang membakar semangat, tapi tidak membakar jempol seperti netizen. Kukuh Santoso dari dunia teater pun ikut meramaikan panggung, membuktikan kalau sastra bukan hanya urusan buku tebal dan kacamata bundar, tapi juga soal ekspresi yang meledak-ledak.
Hadir pula Jalih Pitung, perwakilan Yayasan Seni Betawi Indonesia (YASBI), yang ikut memberikan warna lokal pada acara yang nasionalis ini—lokal tapi tidak norak.
Imam Ma’arif dari Dewan Kesenian Jakarta hadir mewakili Komite Sastra, menyatakan:
“Kosakata ini sejarah baru. Kami salut! Ini bukan sekadar komunitas, ini perlawanan terhadap dunia yang makin cuek sama aksara!”

Sastra Tak Lagi Jadi Pajangan di Lemari
Kosakata 2025 berkomitmen membawa sastra kembali ke panggung, ke ruang publik, ke Medsos (tapi bukan sekadar quote galau), dan tentu saja, ke dalam hati masyarakat.
Sebagaimana pujangga zaman now bilang:
“Jika cinta tak bisa diungkap lewat lirik lagu, maka sastralah pelabuhan terakhir sebelum status WhatsApp.”
Akhir kata, inagurasi Kosakata bukan cuma seremoni, tapi simbol perlawanan. Perlawanan terhadap dangkalnya budaya pop, dangkalnya perhatian publik, dan tentu, dangkalnya sinyal Wi-Fi.
Bravo Kosakata! Jangan biarkan sastra jadi korban ghosting zaman digital.
Gareng Petruk – Nggak Cuma Baca, Tapi Bikin Ngakak dan Mikir!















