Manado, 18 Juli 2025 — Hari itu suasana kantor KPID Sulawesi Utara sedikit berbeda. Bukan karena ada yang nyasar nonton sinetron di jam kerja, tapi karena ada tamu spesial datang: tiga Staf Khusus Gubernur Sulawesi Utara. Eh, ndilalah, Gareng dan Petruk yang kebetulan lewat, ikut nimbrung dan bengong.
Petruk: “Gareng, iki omah KPID? Bukan kios parabola?”
Gareng: “Wah, Truk… ini lembaga serius, tugasnya ngawasi isi siaran. Kalau ada TV yang isinya cuma prank dan gosip, nah mereka ini yang teriak duluan.”
Tiga staf khusus Gubernur — Januardo C.H. Binilang (IT), Nurjannah Seliani Sandiah (Hubungan Antar Lembaga), dan Nicky Lumingas (Advokasi) — datang bertamu bukan untuk ngopi-ngopi, tapi koordinasi. Tujuannya? Menyatukan visi misi penyiaran publik dengan arah pembangunan Pak Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, dan Pak Wagub Dr. J. Victor Mailangkay, SH, MH.
Gareng: “Yo wis bener, mas. Supaya siaran kita nggak cuma bikin ketawa tapi juga bikin mikir.”
Dari pihak KPID, hadir lengkap para komisioner. Ketua KPID Stefani Y. Runtukahu langsung bilang, koordinasi ini penting agar pengawasan siaran tetap relevan, bukan sekadar pengingat jam tayang azan.
Petruk: “Jadi bukan kerjaan ngawasin acara horor doang, ya?”
Gareng: “Wong mereka ngurusin yang lebih ngeri—konten sesat dan berita palsu!”
Yoke F.X. Senduk dan Heriyanto juga nimbrung. Yoke bicara soal pentingnya siaran sehat. Sedangkan Heriyanto, malah lebih serius.
Heriyanto: “Banyak daerah blank spot. Nonton TV aja susah, apalagi nyari informasi benar.”
Petruk: “Berarti di sana sinyalnya hilang, bukan akalnya.”
Gareng: “Ssssst, bener tapi jangan keras-keras!”
dr. Truly G. Kerap, sang dokter yang jadi pengawas siaran, tak kalah blak-blakan.
dr. Truly: “Media penyiaran lokal itu makin megap-megap. Anggaran cekak, tapi diminta siaran berkualitas. Ayo, siapa yang mau siaran sambil makan mie instan setiap hari?”
Petruk: “Duh, Gareng… kasihan juga ya. Mau edukasi publik tapi dapurnya aja hampir nggak ngebul.”

Sementara Pengasihan Amisan mengingatkan soal pentingnya kolaborasi antar lembaga. Rivan Kalalo juga ikut menyelutuk, pengawasan zaman sekarang harus lincah karena konten digital itu licin, cepat, dan nggak kenal batas jam tayang.
Nah, Januardo si ahli IT langsung nyaut.
Januardo: “Sudah waktunya sistem pengawasan digital dibangun. Jangan sampai KPID kerja manual, sementara kontennya udah naik di 10 platform!”
Gareng: “Ngawasi TV zaman sekarang harus lebih pintar dari algoritma!”
Nurjannah, dengan tenang menambahkan, kerja sama antar lembaga jangan sekadar seremoni, tapi harus nyata dan berdampak. Sedangkan Nicky Lumingas, sebagai penjaga urusan advokasi, menegaskan:
Nicky: “KPID butuh ruang aman untuk bekerja. Kalau lembaga ini terus ditekan oleh kepentingan politik dan bisnis, siapa lagi yang menjaga nalar publik lewat siaran?”
Petruk: “Wah, berat, Gareng. Ternyata urusan siaran ini bukan cuma soal nonton, tapi soal masa depan!”
Gareng: “Bener, Truk. Yang mereka jaga itu bukan cuma channel TV, tapi kualitas bangsa.”
Di akhir pertemuan, semua sepakat: penyiaran itu bukan hanya soal hiburan, tapi soal arah pikir publik. Dan untuk menjaganya, dibutuhkan sinergi, dukungan nyata, serta lembaga yang bebas dari tekanan.
Petruk: “Gareng, besok kita daftar jadi pengawas siaran digital, yuk.”
Gareng: “Lha kamu ngerti digital, Truk?”
Petruk: “Ngerti… ngertinya follow akun gosip!”
Tirulah Gareng dan Petruk, yang walau jenaka, tahu bahwa urusan penyiaran itu serius. Karena kalau isi siaran rusak, yang rusak bukan cuma layar kaca… tapi juga isi kepala.
















