SLEMAN – Dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Sleman ke-109, Pemerintah Kabupaten Sleman menggelar ziarah ke makam para mantan bupati. Salah satu yang diziarahi adalah Drs. Samirin, mantan Bupati Sleman periode 1985–1990. Tapi, yang unik dan nggemesin: beliau bukan wong Sleman asli, tapi dari Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Nah lho, Sleman dibangun wong Klaten, piye jal?!
Makam beliau ada di Desa Krakitan, Bayat, Klaten. Seolah berkata, “Jasadku memang kembali ke asal, tapi jasaku tertanam di Sleman.” Wis jujur wae, Gareng dan Petruk sampe mbrebes mili denger kisahnya.

Asal Biasa, Jiwanya Luar Biasa
Istri almarhum, Bu Sri Suprapti, ngajak kita flashback ke masa-masa penuh perjuangan. “Kami nikah tahun 1968, dulu hidupnya pas-pasan, makan aja sering utang ke warung. Kalau malam, kursi makan ditaruh di atas meja biar bisa tidur. Rumahnya kecil banget,” cerita beliau.
Petruk nyeletuk: “Lha kok mirip kosanku pas kuliah, Bu!”
Bayangin lho rek, dari pegawai biasa, lalu jadi Kepala Biro, naik jadi Wakil Kepala Bappeda, terus ditunjuk jadi Bupati. Dadi bupati tapi asalnya dari desa terpencil.
Gareng nambahin: “Ini baru bupati, bukan yang datang dari langit terus langsung nyalon!”
Gaya Hidup Sederhana ala Bupati
Bupati Samirin dikenal nggak neko-neko, nggak ngrasani, dan nggak nggrundel. Beliau kerja diam-diam tapi hasilnya njedul. Nggak pernah merasa dirinya pejabat tinggi. Lebih suka blusukan ke lokasi-lokasi sulit dijangkau, padahal belum zaman viral-viral-an blusukan.
Bu Sri bilang, “Beliau keras ke anak-anak, tapi ke saya lembut dan nggak pernah marah.”
Petruk manggut-manggut: “Laki-laki langka, cocok dibikin tugu!”

Dedikasi dan Jejak Karya
Kalau kamu pernah lewat Ring Road Utara, Terminal Jombor, atau Pasar Induk Sleman, jangan lupa, itu jejaknya Pak Samirin. Beliau yang dulu merintis semua itu.
Sleman waktu itu belum ramai, belum penuh kafe estetik dan kampus kekinian. Tapi Pak Samirin udah mikir jauh ke depan.
“Beliau juga mendorong pembangunan kampus-kampus di Sleman,” lanjut Bu Sri.
Gareng nyeletuk: “Pantes Sleman isinya mahasiswa semua, jebul warisan Pak Samirin!”
Kritik Sosial Ala Gareng Petruk:
Lha saiki, coba dilihat. Banyak yang pengin jadi bupati tapi belum tentu siap tidur di rumah sempit, atau rela makan utang ke warung. Semangat pengabdian kadang kalah sama semangat pencitraan.
Petruk ngomong serius:
“Ziarah ke makam mantan bupati itu bukan cuma soal tabur bunga. Tapi soal tabur inspirasi. Biar kita ngerti, pemimpin itu harus siap susah bareng rakyat, bukan cuma selfie bareng rakyat.”
Akhir Kata dari Gareng:
Pak Samirin mungkin sudah berpulang, tapi nilai dan teladannya tetap hidup. Dari Klaten ke Sleman, dari kursi di atas meja ke kursi bupati. Sebuah perjalanan hidup yang nggak butuh sensasi, tapi penuh aksi.
Mari kita doakan, dan lebih penting lagi: kita teladani.
—
#GarengPetrukMenulis #Sleman109 #SamirinUntukSleman #BupatiSederhana #TeladanPemimpin
“Jadi pemimpin itu bukan tentang dari mana asalmu, tapi ke mana baktimu mengalir.”














