Klaten, 19 Juli 2025 — Ora genah ora rame, mendung tipis-tipis, tapi yang hadir di Pendopo Pemkab Klaten pada Jum’at siang itu penuh gelora rasa dan wewangian dupa. Bukan karena ada tayuban atau wayangan semalam suntuk, tapi karena dua tokoh Klaten, yakni Bupati Hamenang Wajar Ismoyo dan Wakilnya Benny Indra Ardhianto, resmi disemati gelar kehormatan dari Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Hamenang kini menyandang nama panjang nan adiluhung: Kanjeng Raden Arya Hamenang Wajar Ismoyo Yudonagoro, dan Benny menjadi Kanjeng Raden Arya Tumenggung Benny Indra Ardhianto Darmonagoro.
Lha, meski namanya makin panjang, semoga tidak menambah panjang daftar pekerjaan rumah di Klaten, seperti urusan jalan berlubang, air ngocor seminggu sekali, dan lampu jalan yang lebih sering libur daripada PNS cuti bersama.
“Gelar kehormatan ini simbol kepercayaan,” ujar Gusti Moeng, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Kraton, yang juga cucu budaya dan pewaris nilai-nilai luhur Jawa. Beliau menjelaskan, bahwa gelar itu tak sekadar seremoni, tapi punya akar sejarah.
Konon, dulu Klaten dipimpin oleh menantu Pakoe Boewono X yang bergelar Yudonagoro — sosok progresif zaman kolonial, bukan kolektor gelar tanpa kerja.
Nah lho, ini berarti Pak Hamenang sedang memanggul nama besar, bukan sekadar pangkat di atas kertas folio. Kalau dulu Yudonagoro membawa kemajuan, sekarang semoga bukan hanya membawa kunjungan kerja dan baliho senyum lima meter.
“Saya siap membumikan budaya Jawa,” ujar Hamenang, dengan penuh khidmat. Pernyataan yang bikin lega — asal jangan sampai budaya ‘ngomong doang, kerja belakangan’ juga ikut dibumikan.
Sementara itu, Benny Darmonagoro tak kalah bersemangat. Ia pun siap mengawal pelestarian budaya, meski tantangannya bukan sekadar menyanyikan Lir Ilir, tapi juga menyiasati generasi muda yang lebih hafal lagu K-pop daripada tembang macapat. Tantangan besar, Kanjeng!

Tapi jujur saja, redaksi Gareng Petruk senang dan geli dalam satu paket. Senang, karena budaya Jawa diberi panggung. Geli, karena kadang panggung itu terlalu penuh gelar tapi miskin gerak. Tapi ya wis, semoga ini bukan gelar simpanan untuk biodata, melainkan pengingat tanggung jawab besar terhadap rakyat dan akar budaya.
Pesan terakhir dari Gareng:
Kalau sudah pakai gelar Kanjeng Raden Arya, semoga tidak alergi jalan kaki menyapa rakyat. Jangan-jangan rakyat malah lebih hafal jalan ke kantor BPJS daripada jalan menuju bupatinya. Gelar boleh tinggi, tapi kalau harga cabai melonjak, rakyat tetap akan mencicipi rasa pedasnya — bukan rasa kehormatan.
Selamat Kanjeng, semoga gelar ini bukan sekadar penghormatan, tapi pengingat bahwa kekuasaan itu titipan. Bukan titipan sponsor, tapi titipan sejarah.
Nuwun…
Catatan kaki redaksi:
Jika setelah gelar ini tidak ada program nyata pelestarian budaya, maka redaksi akan mengusulkan gelar tambahan: “Kanjeng Raden Arya Prasastikan Janji tapi Lupa Realisasi.” Biar lucu, tapi ngelingke.















