Sungailiat, GarengPetruk.com – Bukan Sekadar Kopdar, Ini Pelantikan Wartawan yang Serius Tapi Tetap Manusiawi
—
Di sebuah ballroom hotel yang namanya kayak grup band Melayu—ST12, Sungailiat—ratusan pasang mata menyaksikan momen sakral pelantikan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Bangka periode 2025–2028. Suasana penuh semangat, penuh gaya, dan tentu… penuh kopi.
Ketua PWI Babel, Mohammad Fathurrakhman alias Boy, naik ke panggung dengan aura seperti pembawa berita breaking news. Dalam sambutannya, Boy tak hanya basa-basi. Beliau langsung to the point—UKW alias Uji Kompetensi Wartawan harus jadi prioritas.
> “Wartawan itu bukan cuma modal hape dan kuota. Harus ada UKW! Biar berita nggak kayak status galau mantan: panjang, lebay, dan nggak jelas narasumbernya dari mana,” tegas Boy sambil nyengir khas wartawan senior yang sudah kenyang pahit-manis dunia pers.
Wartawan Zaman Sekarang: Ngejar Clickbait atau Cek Fakta?
Boy tak lupa mengingatkan, profesi wartawan itu ibarat tukang ojek informasi: harus cepat, tepat, dan nggak asal ngebut. Jangan cuma cari viral, tapi hilang makna. Jangan karena ingin engagement naik, etika ditendang ke jurang.
> “Kalau mau jadi wartawan profesional, ya harus lulus UKW. Itu bukan sekadar sertifikat tempel di dinding, tapi bekal agar kita tidak jadi agen penyebar hoaks yang menyamar pakai ID Pers,” kata Boy, disambut tepuk tangan dan bisik-bisik: “Wah, ini sindiran ke siapa ya?”
Ardam Siap Membawa PWI Bangka Lebih Bertenaga dan Bertinta
Ketua PWI Bangka terlantik, Ardam, tampil dengan semangat muda dan dada bidang (mungkin karena pakai jas resmi). Dalam pidatonya, ia menyampaikan 8 program kerja, yang jumlahnya hampir sama dengan jumlah grup WA wartawan lokal.
> “Kami punya rencana dari A sampai H. Mulai dari rekrutmen, pelatihan, pelaksanaan UKW, sampai program PWI Goes to School. Biar siswa tahu, wartawan itu bukan tukang kejar-kejar ambulans doang, tapi juga pejuang informasi dan penjaga demokrasi,” ujarnya dengan semangat 45 dan suara seperti sedang wawancara narasumber yang ogah buka mulut.
Salah satu program yang cukup unik adalah pembentukan komunitas wartawan pertanian. Wah, ini keren, Sob. Wartawan bukan hanya liput demo atau kriminal, tapi juga bisa bahas pupuk subsidi dan panen raya. Siapa tahu, besok ada kolaborasi reportase: “Menanam Integritas, Menuai Kredibilitas.”
Pemerintah Dukung, Tapi Jangan Cuma di Acara Seremonial
Kepala Diskominfotik, Tedi Sudarsono, hadir mewakili PJ Bupati Bangka. Dalam sambutannya, beliau bilang Pemkab siap mendukung pers. Tentu saja kami percaya. Tapi sebagai media yang suka nyentil, kami cuma mau bilang:
> “Pak, jangan cuma dukung pas pelantikan, ya. Tapi juga pas wartawan nanya soal proyek jalan rusak dan APBD jebol, tolong jangan langsung sibuk meeting dadakan.”
Tedi menyampaikan harapan agar sinergi antara PWI dan Pemkab terus terjalin. Kami di Gareng Petruk pun setuju. Tapi kami juga berharap: sinergi itu bukan berarti wartawan harus selalu nulis yang manis-manis kayak endorse skincare, ya.
—
Penutup: Dari Wartawan ke Warga, dari UKW ke Ujung Pena
Pelantikan ini bukan sekadar ganti pengurus. Tapi momentum menyegarkan arah gerak pers lokal: agar wartawan di Bangka tidak hanya aktif, tapi juga berkualitas. Tidak hanya jadi juru bicara pihak-pihak berkepentingan, tapi juga jadi suara rakyat yang sering kali hanya terdengar lewat bisik-bisik warung kopi.
Semoga ke depan, wartawan di Bangka bisa lebih presisi, berisi, dan tidak gampang emosi. Dan semoga juga, pelatihan UKW tidak berubah jadi ajang formalitas seperti “pesta demokrasi” lima tahunan yang kita tahu ending-nya kadang cuma janji manis doang.
Salam tinta dan logika, dari redaksi Gareng Petruk – media yang siap nyentil sambil ngopi.










