Oleh: Redaksi Gareng Petruk
JEMBER. Kalau biasanya korupsi itu seperti hantu—ada tapi tak terlihat—kali ini hantu itu tertangkap basah dan bernama Tuan Takur. Adalah H. Sulton, alias Tuan Takur, Kepala Desa Tanggul Wetan, Kecamatan Tanggul, yang resmi mendekam di balik jeruji. Alasannya? Tidak lain dan tidak bukan: dugaan korupsi Dana Desa (DD).
“Sudah jadi tersangka, langsung kita tahan,” ujar Kasat Reskrim Polres Jember, AKP Abid Uais Alqarni Aziz, dengan nada tegas yang mengisyaratkan bahwa lelucon kades yang satu ini sudah habis masa lucunya.
Tersangka, yang tampaknya lebih piawai bermain angka ketimbang membangun desa, diduga melakukan aksi pengelapan dana kas desa dari Pendapatan Asli Desa (PAD), Dana Desa (DD), hingga Bagi Hasil Pajak Retribusi Daerah (BGHPR) tahun 2022-2023. Modusnya? Proyek-proyek siluman yang tak pernah wujud.
“Contohnya, rehab balai desa, pengerasan jalan, sampai pembangunan saluran air. Semuanya fiktif! Yang ada cuma laporan di atas kertas,” lanjut AKP Abid. Wah, kalau saja kertas laporan itu bisa jadi jalan, mungkin desanya sudah maju.
Rapor Merah Sang Kades
Kerugian akibat ulah Tuan Takur ini mencapai Rp480 juta! Angka yang cukup untuk bikin jalan desa mulus atau balai desa megah. Tapi apa daya, uang itu lebih memilih masuk ke rekening entah siapa.
Barang bukti sudah dikantongi pihak kepolisian, mulai dari dokumen APBDes, rekening kas desa, hingga laporan pertanggungjawaban yang isinya, maaf, hanya omong kosong belaka. Bahkan 28 saksi sudah diperiksa, termasuk perangkat desa.
Kata AKP Abid, “Kasus ini masih terus kita kembangkan. Tidak menutup kemungkinan, akan ada tersangka baru.” Wah, rupanya sinetron kasus ini belum tamat, pemirsa.
100 Hari Kerja Presiden: Jember Siap Merapat!
Penangkapan ini tak hanya jadi angin segar buat warga Jember, tapi juga sinyal serius dari Polres Jember untuk mendukung 100 hari kerja Presiden RI dalam pemberantasan korupsi. Siapa bilang Jember cuma terkenal karena tape-nya? Kini Jember juga unjuk gigi dalam membasmi praktik korupsi.
Bagi Tuan Takur dan siapa saja yang punya niat serupa, pesan ini jelas: jangan coba-coba! Sebab di Jember, hukum tak lagi seperti pisau dapur—tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.
Pesan untuk Para Pejabat Desa
Nah, buat pejabat desa lainnya, ini jadi pengingat. Jangan cuma pakai seragam dan stempel buat gaya. Ingat, amanah rakyat itu berat. Kalau mau korupsi, siap-siap juga untuk mempertanggungjawabkan. Karena kini, mata hukum di Jember tak lagi tidur siang.
Sekarang tinggal kita tunggu, apakah janji “usut tuntas” ini benar-benar akan sampai ke akar-akarnya? Atau, jangan-jangan hanya sampai di pangkal batang saja?
Satu yang pasti, kalau Tuan Takur pikir uang bisa membeli segalanya, sepertinya ia lupa: hukum juga punya harga. Dan kali ini, harganya mahal.
(Redaksi Gareng Petruk—Kalau kritik itu seni, kami pelukis ulung.)














