Klaten, GarengPetruk – Di tengah situasi bangsa yang kadang lebih panas dari gorengan pinggir jalan pas Maghrib, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Klaten malah adem ayem gelar rapat kerja alias Raker, Sabtu (2/8), di Pendopo Yayasan Ash-Shomad Internasional, Jatinom.
Judul raker-nya panjang kayak jalan kenangan: “Sinergitas Untuk Penguatan Pusat Edukasi Kerukunan Antar Umat Beragama Wujudkan Masyarakat Klaten yang Harmonis, Aman, dan Damai”. Ya intinya, mereka pengen Klaten tetap teduh meski grup WA keluarga udah mulai panas bahas pemilu lagi.
Wabup Bicara, FKUB Berkarya
Wakil Bupati Klaten, Benny Indra Ardhianto, ikut nimbrung di acara. Beliau bilang, “Tanpa kerukunan, tidak ada persatuan.”
Lha iya, Pak! Boro-boro mau bersatu bangsa, wong di rumah aja kalau rebutan remote TV bisa perang dingin. Makanya, FKUB ini penting. Mereka itu semacam “penjaga ketupat” waktu lebaran: beda rasa, tapi satu loyang.
Ketua FKUB: Bukan Cuma Ngopi Bareng
KH Syamsuddin Asyrofi, sang ketua FKUB Klaten, menyampaikan raker ini bukan sekadar ajang ngopi bareng lintas iman. Tapi lebih serius: menyusun program kerja tahun 2026, bangun sinergi, dan tentu saja… cari akal biar kerukunan itu gak cuma slogan di baliho.
“Strategi membangun sinergi dalam keragaman dan keberagamaan di masyarakat akan terus dilakukan oleh FKUB dalam setiap kesempatan,” ujar beliau. Kalimatnya berat, tapi maknanya ringan: ayo rukun, Bro!
Rencana Besar: Dari Grha Bung Karno ke Sawah Wisata
Tak hanya duduk manis, FKUB juga punya mimpi: bangun pusat edukasi kerukunan di Grha Bung Karno. Tempatnya strategis, semangatnya heroik. Kalau Bung Karno bisa nyatuin nusantara, masa kita nyatuin hati antar tetangga beda tempat ibadah aja nggak bisa?
Lalu ada juga program “Kecamatan Sadar Kerukunan” di Jatinom dan “Desa Sadar Kerukunan Berbasis Agro Wisata” di Prambanan. Nah, ini keren! Jalan-jalan ke sawah, sambil diajarin toleransi. Wisata hati dan pikiran, bukan cuma selfie dan kopi susu.

Kritik Gaya Gareng: Jangan Damai di Kertas Saja
Raker ini boleh kita sambut, tapi ingat, damai itu butuh kerja, bukan cuma kerja rapat. Toleransi itu kayak otot, harus dilatih terus. Biar gak cuma jadi quote Instagram pas Hari Toleransi Internasional, terus balik ribut di TikTok sore harinya.
Semoga FKUB ini bukan sekadar forum-foruman, tapi forum yang beneran ngurusi umat, bukan hanya ngundang tokoh pas ada konflik. Kerukunan jangan cuma viral saat bencana, tapi harus jadi budaya sehari-hari—kayak sarapan pecel.
N (Ngakak) + Pesan Moral:
Kalau beda pendapat bikin musuhan, coba diadu siapa yang bisa ngeruk sambel lebih pedes. Siapa tahu damai datang lewat perut. FKUB Klaten udah mulai jalan, tinggal kita ikut langkahnya. Biar Klaten tetap rukun, gak kayak timeline medsos pas debat capres.
















