Libur Lebaran 2025 di Klaten bikin air di Umbul-umbul nggak cuma bening, tapi juga beriak saking banyaknya yang nyemplung!
Salah satu yang paling ramai? Umbul Siblarak, Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo. Pengunjungnya bukan main, tembus 10.000 kepala! Itu bukan arisan RT, lho—itu pengunjung beneran!
Mujahid, Kepala Desa Sidowayah, nyengir lebar sambil ngitung tiket masuk. “Naiknya 200 persen, Mas. Saya sampe mikir, ini orang pada mudik apa mudik sambil mandi?” katanya sambil nyemil rengginang.
Waterpark milik BUMDES itu mendadak jadi kolam prestasi. Tapi ya namanya juga desa, sukses dikit langsung minta ‘bonus’. Mujahid langsung menghadap ke Pak Bupati, dengan satu pesan sakti:
“Pak Bupati, tolong Kepala Dinas Pendidikan-nya disuruh nyuruh kepala sekolah, biar anak-anak study tour-nya di Klaten wae!“
Menurut beliau, daripada uang study tour dibakar di kota sebelah, mending nyemplung di umbul dewek. Hemat bensin, hemat anggaran, dan hemat drama ortu yang ngeributin biaya.

Tapi bukan Gareng kalau nggak ngendus drama lain. Ternyata eh ternyata, masih banyak lokasi wisata di Klaten yang statusnya masih zona hijau. Bukan ijo royo-royo, tapi ijo administratif! Alias belum boleh resmi disebut tempat wisata, jadi was-was terus kalau ada oknum main laporan.
“Takutnya ada yang ngaku-ngaku dari lembaga ini-itu, bawa undang-undang, terus jebret, wisata disegel! Wisatawan bubar, pedagang nganggur, saya pusing,” keluh Mujahid dengan ekspresi campuran antara serius dan pengen ngemil cilok.
Makanya, Mujahid ngelus dada sambil minta solusi dari Bupati Klaten, Hamenang. Dan tenang, Pak Bupati tanggap!
“Tenang, Mas. Perda RT/RW bisa direvisi di tahun 2026. Monggo, didata dulu tempat-tempat wisata yang belum resmi, nanti kita resmiin bareng-bareng,” ujar Hamenang sambil senyum ala caleg pas kampanye.
Pak Bupati juga nambahin: Klaten siap jadi ikon wisata air nasional, bukan cuma kolam renang desa, tapi kolam renang berdaya ekonomi! Tujuannya? Bukan cuma menyegarkan badan, tapi juga menggerakkan perekonomian warga.
Gareng-Petruk menimpali:
Gareng: “Study tour di Klaten? Mantap! Anak-anak bisa belajar renang sambil belajar jualan cilok!”
Petruk: “Sing penting, jangan sampe study tour-nya ke luar negeri, pulang-pulang malah logatnya jadi bule!”
Akhir kata,
Klaten nggak cuma punya air jernih, tapi juga harapan jernih buat masa depan wisata lokal. Asal jangan cuma jernih di janji—tapi keruh di realisasi















