PONOROGO, garengpetruk.com – Di tengah suasana budaya yang sakral dan semarak, Polres Ponorogo membuktikan bahwa menjaga pusaka itu bukan cuma tugas spiritual, tapi juga logistik.
Sebanyak 430 personel gabungan dikerahkan buat jaga-jaga — bukan karena pusaka bisa jalan sendiri, tapi karena ribuan warga juga ikut nyusul buat nonton Grebeg Suro 2025.
Dari Kirab Hingga Jamasan, Semua Dijagain
“Situasi aman, terkendali, tertib,” kata AKBP Andin Wisnu Sudibyo, Kapolres Ponorogo, sambil memastikan semua pihak — dari polisi, TNI, Dishub, sampai Satpol PP — hadir bukan hanya buat numpang foto bareng reog.
Rute kirab dari makam Bathoro Katong sampai Paseban Aloon-Aloon Ponorogo disulap jadi jalur VIP rakyat jelata.
Gareng nyeletuk:
“Biasanya lewat situ takut ditilang, sekarang malah selfie sama polisi. Sekali-sekali begini terus tiap minggu, Pak!”

Pusaka Jalan, Warga Berdiri, Forkopimda Duduk Manis
Kirab pusaka? Sudah pasti megah.
Ada bupati-bupati dari segala penjuru Jawa Timur yang dateng — dari Sugiri Sancoko (Ponorogo), Ony Anwar (Ngawi), sampai Marhaen Djumadi (Nganjuk), lengkap dengan senyuman khas orang kuat daerah.
Forkopimda Ponorogo juga hadir, plus tokoh masyarakat. Yang absen cuma harga sembako, karena dia ogah turun walau suasana hikmat.
Petruk sambil ngunyah kerupuk komentar:
“Kirab pusaka ini sakral, bro. Tapi harga cabe juga pusaka rakyat. Udah lama gak dijamasin tuh.”

Budaya Tertib, Tapi Parkir Masih Bebas Syariat
Di balik megahnya kirab, warga tetap antusias.
Ada yang nonton, ada yang jualan, ada juga yang nonton sambil jualan. Tapi yang paling menegangkan bukan cuma jamasan pusaka — tapi cari parkir tanpa ditilang dan dompet gak bolong.
Gareng nyeplos:
“Kalo budaya udah diarak, semoga moral dan etika juga ikut dikirab. Biar gak cuma pusaka yang dijaga, tapi juga akhlak birokrasi.”
Grebeg Suro: Budaya, Wisata, atau Panggung Sementara?
Grebeg Suro emang keren. Sakral, penuh sejarah, dan menyatukan warga lintas status sosial — dari tukang cilok sampai pejabat dengan jas kebesaran.
Tapi pertanyaannya, apakah budaya ini akan tetap hidup setelah musik, tenda, dan spanduk dilipat?
Petruk mengingatkan:
“Kalau cuma rame pas Grebeg, terus sepi kayak kuburan politik pasca-Pemilu, ya budaya ini cuma jadi event kalender, bukan napas harian.”
Penutup Punakawan
Selamat buat seluruh panitia, petugas, dan warga yang sudah ikut nyuksesin Grebeg Suro 2025.
Tapi ingat, menjaga pusaka bukan cuma ngarak keris dan tombak — tapi juga menjaga amanah dan warisan akal sehat.
Gareng nutup dengan gaya khas:
“Yang dikirab bukan cuma pusaka leluhur, tapi juga harapan rakyat kecil. Jangan sampai habis kirab, rakyat balik mikir: ‘Gue dapet apa, ya?’”
Dilaporkan oleh Tim Gareng Petruk — karena budaya bukan cuma buat difoto, tapi juga buat dihidupi. Dan kritik gak harus marah-marah, kadang cukup pakai canda yang bikin mikir.
















