> “Kebijakan negara yang ciamik bukan yang ramai saat kunjungan, tapi tetap hidup setelah rombongan pulang.” – Gareng Petruk
—
Situbondo, 14 Juni 2025 — Hari Sabtu, tapi suasana di Baluran kayak hari ujian nasional: serius, panas, dan penuh tamu berdasi loreng. Pagi-pagi, pasir Pantai Banongan belum sempat dingin, sudah disambut sepatu bot para petinggi negara. Yang datang? Bukan rombongan wisatawan, bukan juga pemburu sunset. Tapi Marsdya TNI Yusuf Jauhari, M.Eng., Kabaranahan Kemhan RI, bareng pasukan elitnya. Tujuannya mulia: meninjau lokasi rencana pembangunan fasilitas latihan TNI di Puslatpurmar 5 Baluran.
Dan siapa yang berdiri gagah menyambut dengan dada dibusungkan bukan karena sombong tapi karena kebiasaan militer? Yup, Mayor Marinir Andy Sinaga, M.Tr. Opsla, Komandan Puslatpurmar 5 Baluran. Beliau bilang tegas:
> “Puslatpurmar 5 Baluran siap menerima kunjungan.”
Kalimatnya pendek, padat, dan penuh makna. Mirip puisi Chairil Anwar, tapi versi militer.

—
Baluran Jadi Sasana Gladiator?
Kawasan latihan di Baluran ini bakal disulap jadi markas latih elit. Tapi Gareng pengin nanya:
> Apakah latihan pertempuran ini buat menjaga NKRI, atau latihan supaya para pemimpin siap tempur melawan kritik rakyat?
Pantai Banongan katanya akan jadi lokasi landing force yang top markotop. Tapi jangan-jangan nanti malah jadi tempat buat gladi bersih pencitraan, bukan gladi bersih tempur. Soalnya, kadang yang paling sering ditembak itu justru bukan musuh, tapi rakyat kecil—ditembak dengan aturan aneh, proyek nyasar, dan harga sembako yang gak paham konsep latihan menembak: terus naik, tak pernah meleset.

—
Yang Datang, Siapa Saja? Full Cast!
Yang hadir di acara ini kayaknya bisa buat bikin film perang skala nasional. Ada Kolonel Marinir Dede Harsana, Kolonel Laut Nurul Muchlis, Kolonel Inf Khohir, Letkol Marinir Bondan Wahyu Adi, Letkol Alexander A.B., hingga Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah, S.Pd.I.
Lengkap, dari laut, darat, udara, sampai udara politik daerah. Bahkan kepala Balai Taman Nasional Baluran, Agus Setyobudi, pun hadir. Mungkin biar kalau hutan dibangun, satwa bisa diajak baris-berbaris juga.
Gareng sempat mikir:
> Ini tinjauan medan latihan atau ajang silaturahmi “angkatan dan alam”?

—
Sindiran dari Baluran yang Tertinggal
Gareng bersyukur tentara kita makin modern, makin terlatih. Tapi yang jangan dilupakan, rakyat di sekitar Baluran juga butuh latihan—latihan hidup yang layak! Jangan sampai kawasan yang dipoles buat latihan tempur malah meninggalkan warga sekitar dalam kondisi tempur hidup sehari-hari: susah air, listrik mati, dan jalan bolong tiap musim kemarau.
Dan satu lagi: jangan sampai pembangunan fasilitas TNI di Baluran malah jadi dalih buat menggeser warga atau merusak hutan. Hutan bukan medan latihan untuk amarah, tapi tempat belajar disiplin dari semesta. Kalau hutan rusak, jangankan latihan tempur, latihan napas aja bisa gagal karena polusi.
—
Gareng Ngomong Sambil Ngopi
Gareng cuma bisa ngopi di warung deket pantai sambil manggut-manggut lihat rombongan pejabat datang naik mobil mewah, jalan di atas tanah yang tiap musim hujan berubah jadi kolam.
Gareng bilang:
> “Latihan perang itu penting. Tapi jangan sampai rakyat jadi korban dari perang antara proyek dan akal sehat.”
Semoga fasilitas latihan nanti bukan cuma megah di brosur, tapi juga berguna bagi TNI dan berdampak positif bagi rakyat Situbondo. Karena pertahanan sejati bukan hanya soal senjata dan taktik tempur, tapi tentang rakyat yang merasa aman—dari ancaman luar maupun dalam negeri, termasuk ancaman kebijakan setengah hati.
—
Gareng Petruk — dari Baluran, mengintip negeri yang sibuk melatih pasukan, tapi lupa melatih keadilan.
> “Latihan perang boleh seminggu penuh, tapi latihan jadi pejabat jujur harus seumur hidup.”
Sampai jumpa di liputan berikutnya, rek! Semoga lokasi latihannya makin mantap, dan warga sekitarnya nggak perlu latihan sabar terus-terusan.















