BANYUWANGI – Sabtu, 14 Juni 2025. Matahari bersinar terang, ayam kampung belum sempat bertelur, tapi suasana di Polresta Banyuwangi udah kayak mau gelar turnamen Proliga. Soalnya siapa yang datang? Bukan wasit, bukan pelatih voli, tapi Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Drs. Nanang Avianto, M.Si. sendiri!
Betul rek! Kapolda kita yang biasanya sibuk ngatur lalu lintas dan ngebongkar sindikat maling ayam online, kini muncul di Banyuwangi buat kunjungan kerja. Tapi bukan kunjungan biasa, karena selain ngasih pengarahan ke para personel polisi, beliau juga bawa “surat tugas” buat melantik pengurus PBVSI Banyuwangi masa bhakti 2025-2029. Iki baru namanya multitasking level jenderal: jaga keamanan, tapi juga jaga net voli!
Kapolda Main ke Voli, Ada Apa Gerangan?
Pelantikan dilakukan secara khidmat di Ruang Rupatama Polresta. Bukan di lapangan voli, tapi tetep berasa aura kompetisinya. Kapolda nyebut bahwa bola voli bukan cuma urusan smash dan blocking, tapi juga alat untuk membentuk karakter generasi muda. Ngono lho! Jadi jangan remehkan net dan bola. Lebih baik anak muda nyundul bola daripada nyundul utang pinjol.
> “PBVSI Banyuwangi diharapkan mampu mencetak atlet berprestasi dan membangun karakter anak muda,” kata Pak Kapolda sambil senyum penuh harapan — dan mungkin juga bayangan service ace.
Bola Voli dan Politik Keteladanan
Gareng seneng, betul-betul seneng. Akhirnya ada pejabat tinggi yang ngerti bahwa olahraga itu bukan cuma buat basah-basahan di lapangan, tapi juga buat ngeringetin hati yang kering oleh sistem. Anak-anak muda hari ini butuh inspirasi, bukan hanya edukasi. Butuh lapangan yang rata, bukan janji yang rata-rata.
Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol. Rama Samtama Putra, juga ikut nyaut. Katanya, siap dukung penuh kegiatan olahraga sebagai sarana positif buat pembinaan generasi muda. Mantap! Tapi Gareng titip pesan: jangan cuma dukung saat pelantikan, tapi juga saat mereka latihan di lapangan becek tanpa tribun. Soalnya voli itu gak bisa hidup dari pidato doang.
Sindiran Tipis Seperti Net Voli
Gareng pengin tanya nih: kalau PBVSI bisa dilantik langsung oleh Kapolda, kenapa pengurus RT kadang dilantik pakai amplop “kesepakatan diam-diam”? Hehe, ayo rek, olahraga kita ini seharusnya bukan hanya urusan pencitraan atau pelantikan, tapi soal konsistensi, pendanaan, dan pengembangan yang berkelanjutan. Jangan sampai atlet voli Banyuwangi nyari sponsor sampai ke luar angkasa gara-gara gak ada yang ngurusin.
Dan satu lagi, kenapa banyak lapangan voli di desa yang berubah fungsi jadi lahan parkir atau tempat jualan bensin eceran? Padahal olahraga itu bisa jadi alat pemersatu, bukan cuma alat peres waktu kampanye.

Akhir Kata dari Gareng yang Gak Bisa Spike
Gareng doakan PBVSI Banyuwangi makin jaya. Semoga kepengurusan barunya gak cuma jago di undangan, tapi juga tangguh di lapangan. Jangan lupa bikin liga-liga kecil antar kampung, biar voli jadi budaya, bukan sekadar acara tahunan yang didatangi pejabat terus dilupakan begitu saja.
> “Karakter itu bukan dibangun dari seremoni, tapi dari kerja sunyi. Lapangan yang sepi seringkali lebih jujur daripada panggung pelantikan.”
Kapolda Jatim sudah turun tangan, bola kini di tangan pengurus PBVSI. Ayo pasang net, semangat nyalakan!
Karena generasi muda butuh ruang bermain, bukan cuma ruang menunggu perubahan.
Sampai jumpa di pertandingan berikutnya, semoga tidak dibatalkan karena anggaran tak turun.
Suwun, Banyuwangi, tetap elok dalam peluh dan harapan!
—
Gareng Petruk Com – dari balik net, mengamati negeri yang sering kejebak lob dan jump serve janji-janji.
(Redaksi: Pakai sandal jepit, tapi pikirannya melompat jauh ke masa depan.)
















