Rabu, 14 Mei 2025 — Di tengah panasnya isu sampah politik dan limbah sosial, kini muncul kabar “sampah birokrasi” dari dunia pendidikan di Jember.
Wartawan yang niatnya cuma ingin klarifikasi kegiatan sekolah malah disambut kayak maling ayam: disuruh nunjukkin KTA, surat resmi dari Cabdin, bahkan kalau bisa, cap jempol darah dan stempel lurah sekecamatan. Gareng pun tepuk jidat: “Iki wartawan rek, bukan mata-mata luar negeri!”
—
Kronologi Singkat: Ketika Kamera Dicurigai Lebih dari CCTV
Ceritanya, beberapa wartawan datang ke SMAN 5 Jember. Niatnya mulia: mau klarifikasi kegiatan yang tengah berlangsung. Tapi alih-alih disambut kopi dan senyum, mereka disambut pertanyaan penuh curiga. Security sekolah minta KTA dan surat resmi dari Cabdin Jember, kayak lagi ngecek proposal bantuan sosial.
Kepala Cabdin Sugeng Trianto, S.Sos, M.M langsung bantah keras:
“Cabdin ora pernah ngasih perintah macam itu. Security mungkin cuma ingin catat identitas, biar gak dikira ninja malam hari.”
Wah, untung Pak Sugeng masih pakai logika waras. Kalau enggak, bisa-bisa wartawan disuruh sidik jari dulu sebelum masuk.
—
Humas Sekolah Didiklat, Tapi Beritanya Bikin Nyengir Campur Bingung
Dalam waktu yang bersamaan, Cabdin lagi ngadain kegiatan edukasi buat Humas sekolah se-Jember. Tujuannya bagus: biar humas sekolah bisa menyambut wartawan dengan ramah dan senyum — bukan dengan wajah curiga dan tangan siap panggil Satpol PP.
Tapi sayangnya, ada berita yang belok kayak motor ngebut di jalan rusak: katanya wartawan yang gak bisa nunjukin dua kartu (KTA dan UKW) dianggap “wartawan abal-abal.”
Gareng langsung geleng-geleng sambil nyeruput kopi:
“Lha iki aturan dari mana? Mosok wartawan harus ikut UKW dulu, padahal UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 saja gak ngomong gitu. Dewan Pers juga gak pernah mewajibkan!”
—
Kasi SMK, Pak Muhammad Khotib: “Saya Nggak Pernah Ngomong Gitu, Mas!”
Pak Khotib, yang katanya disebut sebagai sumber berita tadi, langsung bantah halus tapi tegas.
“Saya cuma ngajarin humas sekolah biar ngerti tata krama, bukan ngajarin main usir-usiran. Kalau ada tamu, ya disambut baik. Wartawan juga tamu, bukan pencuri ide,” jelasnya.
Wah, ini baru pejabat keren: ngerti etika, bukan cuma hafal pasal.
—
Kesimpulan ala Petruk:
Wartawan datang ke sekolah itu bukan buat nyari wangsit, tapi mau nyari informasi. Tapi kalau disuruh bawa surat sakti, kartu berlapis, dan sertifikat segala, nanti jangan-jangan disuruh pakai pin GPS juga biar bisa dilacak kayak pesawat tempur.
Jangan sampai sekolah-sekolah jadi kayak benteng zombi di film: susah dimasukin, penuh kecurigaan, dan ujungnya justru menolak transparansi.
—
Pesan Moral ala Gareng:
Wartawan juga manusia, bukan makhluk halus yang harus diusir pakai kemenyan birokrasi.
Humas sekolah itu perpanjangan tangan pendidikan, bukan satpam berwajah manis.
Jangan sampai gara-gara “oknum” berita belok, wartawan malah dijadikan musuh. Padahal mereka cuma mau bantu publik tahu apa yang terjadi.

—
Gareng Petruk pamit. Ingat, yang abal-abal itu bukan wartawannya, tapi kadang… pemahamannya!
#WartawanBukanTamuIlegal #SekolahBukanKastil #GarengPetrokBersabda
















