Oleh: Petruk, Mantan Calon Lurah di Negeri Para Dewa
Waktu Gareng bilang: “Truk, korupsi itu dosa!”
Aku langsung bilang, “Tenang, Reg… Di negeri ini, dosa itu tergantung posisi.”
Sebab di tanah para dewa—di mana awan penuh janji dan istana dari kertas proposal—korupsi bukan lagi kejahatan. Ia sudah naik kasta. Jadi seni. Seni mencuri, tapi jangan sampai berdarah. Jangan pakai celurit, cukup pakai powerpoint.
—
BAB I: Mencuri dengan Gaya
Di kampungku, maling ayam bisa babak belur.
Tapi di gedung tinggi ber-AC, maling anggaran bisa naik mobil dinas—plus senyum manis di talkshow pagi.
Lha piye? Dia bukan maling sembarangan. Dia punya gelar, punya backing, dan punya strategi:
Pakai baju putih: supaya kelihatan suci.
Pakai kata “demi rakyat”: supaya kelihatan peduli.
Pakai alasan “salah prosedur”: supaya kelihatan kecelakaan, bukan kesengajaan.
Aku sampai kagum. Pinter tenan. Maling, tapi dengan diplomasi.
—
BAB II: Nepotisme Adalah Nama Tengah
Gareng pernah tanya, “Kenapa jabatan dipegang orang itu-itu saja, Truk?”
Aku jawab, “Karena orang baru masih belajar nyolong. Yang lama sudah hafal peta jalan tol.”
Lha kok ya lucu, kadang satu kantor isinya kakak, adik, sepupu, mantu, bahkan tetangga kontrakan. Negara ini seperti arisan keluarga—hadiahnya: proyek.
Dan tiap kali kita protes?
Jawabannya standar: “Dia lolos seleksi… secara independen.”
Ah, indepen…denial, iya.
—
BAB III: Radikalisme & Anarkisme—Saudara Sepupu Korupsi
Ketika rakyat lapar dan marah, mereka disebut anarkis.
Tapi ketika pejabat ngabisin anggaran, mereka disebut dinamis.
Bedanya cuma kostum dan kesempatan.
Radikalisme katanya bahaya. Tapi korupsi pelan-pelan ngebunuh lebih banyak orang—dari gizi buruk sampai jalan rusak.
Tapi karena pelan-pelan, rakyat malah ngira itu takdir.
Padahal itu manajemen busuk dengan seragam wangi.
—
BAB IV: Hukum—Jaring Ikan, Tapi Lobster Lewat
Di negeri para dewa, hukum ibarat jaring:
Ikan kecil nyangkut,
Ikan besar melenggang,
Lobster? Diekspor pakai surat izin abal-abal.
KPK kerja keras nangkep koruptor, tapi seringnya nangkep yang jatahnya kurang besar.
Yang gede?
Entah sembunyi di balik kekebalan, atau ikut seminar antikorupsi—sambil nyuri juga.
—
EPILOG: Apa Kabar Rakyat?
Tenang, rakyat tetap setia.
Setia antri minyak, setia bayar pajak, setia ngelus dada.
Karena di negeri para dewa, mimpi tetap dijual murah.
Dan korupsi?
Tetap jadi seni.
Seni mencuri, tanpa terluka.
Tanpa bersalah.
Tanpa malu.
—
Salam dari Petruk, yang masih percaya kalau lucu bisa jadi senjata. Tapi tolong, jangan disita.
















