Jember – GarengPetruk.com
Jum’at pagi yang biasanya dipakai bapak-bapak ngopi sambil garuk perut dan mikirin cicilan motor, kali ini suasananya lain. Udara di Dusun Curahbamban, Tanggul Wetan, Kabupaten Jember terasa adem, bukan karena AC, tapi karena Idul Adha tahun ini jatuhnya kompak!
Yes, saudara-saudara… Muhammadiyah, NU, Pemerintah, dan bahkan emak-emak WA grup RT tidak ribut soal tanggal! Subhanallah, ini sudah kayak gerhana: langka tapi indah.
Pantauan jurnalis kami yang tidur di emperan masjid sejak jam 5 pagi (demi dapat tempat parkir motor), ratusan jamaah berdatangan ke Masjid Al-Mustaqim. Ada yang jalan kaki, ada yang bonceng tiga, bahkan ada yang datang sambil ngantuk tapi mukanya glowing—entah karena wudhu atau skincare.
Dengan pakaian terbaik (yang biasa cuma dipakai saat kondangan mantan), lantai tiga Masjid Al-Mustaqim pun penuh sesak. Bertugas sebagai Imam: Nuralimulghani S.Pd., SE., Khotib: Ustadz Mujib, dan Bilal: Ustadz Ansori. Pelaksanaan sholat tertib dan khusyuk, meskipun ada anak kecil yang nangis karena ingin ikut takbir pakai toa.
Ketua Yayasan Ngomong, Jamaah Merenung
Pak Nuralimulghani, Ketua Yayasan sekaligus Penyuluh Agama KUA Tanggul (dan mungkin juga penasihat grup WA alumni SD), menyampaikan terima kasih pada jamaah yang hadir. Ia mengingatkan untuk selalu bersyukur, bukan hanya waktu gajian atau dapat sembako pemilu.
> “Laksanakan sholat Idul Adha ini dengan khusyuk dan hikmat,” ucap beliau, sambil menahan suara toa masjid yang kadang mendadak cempreng seperti radio butut.

Khotbah yang Ngena, Nggak Sekadar Formalitas
Ustadz Mujib tampil sederhana, tanpa efek suara dan lampu sorot, tapi isi khutbahnya mantap: ajakan untuk bertakwa, bersyukur, dan meneladani Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Bukan cuma hafal nama, tapi paham makna pengorbanan.
Bukan cuma bisa upload kambing ke Instagram, tapi ikhlas dan jujur beli kambingnya dari rezeki halal, bukan hasil mark-up proyek gapura masjid.
> “Marilah kita berqurban dengan hati yang bersih, bukan sekadar pencitraan,” tegas beliau, yang bikin beberapa orang melirik tajam ke teman sebelah yang tadi selfie bareng kambing.

Kurban Bukan Ajang Pamer
Setelah sholat, panitia motong 5 ekor kambing. Dagingnya dibagikan bukan ke yang banyak followers, tapi ke yang berhak sesuai syariat.
Yang biasanya tiap tahun dapet 3 kantong plastik daging dan 1 stiker caleg, tahun ini cukup satu, tapi berkah insyaAllah.
Gareng Petruk berharap tahun depan tambah hewan kurban, bukan tambah baliho.
—
Catatan Gareng Petruk
Idul Adha ini harusnya jadi momen latihan keikhlasan nasional.
Bukan cuma ikhlas antre daging kurban, tapi juga ikhlas menerima kekalahan di pemilu, ikhlas gak update status kalo belum qurban, dan ikhlas lihat mantan sholat bareng suami barunya.
Yang paling penting, jangan cuma khusyuk pas Idul Adha.
Besok-besok, waktu negara ini butuh pengorbanan—jujur dalam kerja, amanah dalam jabatan, gak nyolong di kas desa—itu juga bentuk kurban.
















